TITIN KOMARIYAH
UPAYA PERBAIKAN GIZI IBU HAMIL MELALUI PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN (PMT) DAN KELAS IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA UPT PUSKESMAS MARGADADI KECAMATAN INDRAMAYU TAHUN 2017
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG
Peraturan
Menteri Kesehatan Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Upaya Perbaikan Gizi merupakan
regulasi dari Kementerian Kesehatan yang bertujuan untuk
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dengan melakukan upaya perbaikan gizi
perseorangan dan gizi masyarakat pada seluruh
siklus kehidupan sejak dalam kandungan sampai dengan lanjut usia dengan prioritas kepada kelompok rawan gizi. Gizi merupakan unsur yang sangat
penting dalam membentuk kualitas manusia, oleh karenanya berbagai upaya perbaikan
gizi yang dilakukan untuk meningkatkan gizi.
Manfaat
dari perbaikan gizi adalah meningkatkan status gizi, peningkatan mutu konsumsi
makanan, serta penanggulangan terhadap masalah gizi, sehingga diharapkan ibu
hamil dan bayi yang dikandungnya dalam keadaan sehat. Sasaran dalam perbaikan
gizi ini adalah seluruh individu baik bayi, balita, remaja, manusia dewasa,
maupun usia lanjut. Masalah gizi banyak ditemui pada golongan ibu hamil,
misalnya Kurang Kalori Protein (KKP), anemia gizi, defisiensi vitamin A dan
yodium. Sebagian besar masalah disebabkan oleh faktor ekonomi dan pendidikan
keluarga, namun tidak dipungkiri bahwa faktor sosial budaya mempengaruhi secara
nyata gambaran menyeluruh masalah gizi di daerah pedesaan. Sikap dan
kepercayaan ibu hamil pada budaya leluhur yang mengatakan bahwa selama hamil
dilarang makanan tertentu karena akan mengakibatkan kelainan pada anak yang
dikandungnya masih sangat dipercaya dan ditakuti. Rendahnya pengetahuan ibu
hamil mengenai manfaat zat–zat gizi pada makanaan akan sangat berpengaruh
dengan cara pengolahan dan penyusunan menu makanan sehingga gizi yang
diharapkan tidak didapatkan. Ibu hamil harus menerapkan menu empat sehat lima
sempurna.
Berbagai
penelitian menunjukkan bahwa perkembangan otak berlangsung pesat pada saat
janin berada dalam kandungan ibu. Kekurangan gizi pada masa kehamilan akan
menyebabkan bayi lahir dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) yang mempunyai
resiko tinggi terhadap kematian bayi atau lebih lanjut mengalami pertumbuhan
dan perkembangan dibawah normal.
Kekurangan
berbagai macam zat gizi selama kehamilan akan mempengaruhi status gizi ibu
hamil. Kenaikan berat badan yang rendah selama kehamilan dan Lingkar Lengan
Atas (LILA) kurang dari 23,5 cm merupakan indikator kurang gizi pada ibu hamil
yang merupakan penyebab langsung retardasi pertumbuhan intra uteri. Status gizi
yang buruk memberikan kontribusi pada tiga penyebab kematian ibu yang utama
yaitu perdarahan, toksemia gravidarum dan infeksi.
Mengingat
pentingnya hal tersebut, oleh karenanya penulis menangkat tema makalah ini
sebagai langkah dalam menendukung pelaksanaan dan implementasi dari Permenkes
Nomor 23 Tahun 2014 tentang Upaya Perbaikan Gizi terutama dalam pasal 12 ayat
(2) butir (d) yang menyatakan tentang ibu hamil, nifas dan menyusui merupakan alah
satu kelompok rawan gizi, maka
untuk itulah saya mengambil judul makalah “ Upaya
Perbaikan Gizi Ibu Hamil Melalui Pemberian Makanan Tambahan dan Kelas Ibu Hamil
di Wilayah Kerja Puskesmas Margadadi Kecamatan Indramayu Tahun 2017”.
B. Identifikasi Masalah
1. Faktor penyebab masalah kurang gizi yang menimpa ibu saat
hamil merupakan faktor yang berperan atas tingginya kejadian
BBLR di Wilayah Kerja pada UPT Puskesmas Margadadi Kecamatan Indramayu Dinas
Kesehatan Kabupaten Indramayu.
2. Prevalensi ibu hamil risiko KEK karena kekurangan gizi di Kerja pada UPT Puskesmas Margadadi Kecamatan Indrmayu masih tinggi, sehingga
perlu diketahui penyebab terjadinya KEK pada ibu hamil melalui
catatan pangan yang dikonsumsi.
3. Kondisi fisik yang kurang memungkinkan untuk menjalani
kehamilan yang normal karena usia ibu
masih terlalu muda, dan jarak kehamilan yang terlalu dekat.
4. Status ekonomi yang kebanyakan menengah kebawah
mempengaruhi pola makan ibu hamil dalam memilih bahan makanan yang dikonsumsi
setiap harinya.
C. RUMUSAN MASALAH
Rumusan masalah dalam malah ini adalah bagaimanakah Upaya Perbaikan Gizi Ibu
Hamil Melalui Pemberian Makanan Tambahan dan Kelas Ibu Hamil di Wilayah Kerja
Puskesmas Margadadi Kecamatan Indramayu Tahun 2017?
D. TUJUAN
a.. Untuk
mengetahui Upaya
Perbaikan Gizi Ibu Hamil Melalui Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dan Kelas Ibu Hamil
BAB II
LANDASAN TEORI
Kehamilan
adalah suatu kejadian yang hampir semua ibu pada umumnya sudah mengerti
bagaimana seharusnya ia lebih menjaga kondisi tubuh demi untuk kelancaran
kehamilan dan perkembangan janin dalam kandungan. Jika sebelumnya ia makan
hanya untuk dirinya sendiri, kini ia harus mencukupi kebutuhan gizinya untuk
janinnya pula. Normalnya, sang ibu mengalami peningkatan berat badan selama
kehamilan berlangsung. Kenaikan berat badan yang optimal akan berdampak baik
pada kehamilan maupun output persalinannya kelak. Dengan berat badan yang ideal
untuk seorang ibu hamil, pertumbuhan janin pada umumnya akan berlangsung
normal. Komplikasi timbulnya gangguan kesehatan dan penyakit lain juga bisa
dihindari. Hal ini pun memberikan efek pada pasca persalinan yaitu kesehatan
ibu selama laktasi.
Gambar
1.1. Ibu Hamil
Sebelum dan selama
kehamilan seorang ibu pasti membutuhkan asupan yang lebih dari
biasanya, oleh karena itu seorang ibu perlu mengatur dan memerhatikan kebutuhan gizinya. Usia kehamilan
sangat menentukan kebutuhan gizi yang akan diperlukan. Apabila terdapat suatu macam zat gizi yang tidak terpenuhi
dengan baik, maka anak akan menyebabkan terjadinya kelainan cacat bawaan
pada anak.
Pada masa kehamilan
muda, tambahan gizi dalam bentuk vitamin dan mineral
sangat diperlukan, sedangkan kebutuhan akan kalori dan protein sangat diperlukan pada minggu kedelapan sampai kelahiran.
Terdapat beberapa hal dalam memenuhi gizi ibu pada saat masa kehamilan, yaitu
kebutuhan gizi pada ibu hamil. Setiap gizi
ibu hamil memiliki perbedaan dalam memcukupi kebutuhan gizinya. Perbedaan
tersebut dipengaruhi oleh kondisi fisik dan kesehatan ibu, dan status gizi ibu sebelumnnya. Seorang ibu hamil yang
memiliki kekurangan gizi dapat menyebabkan anak
yang dilahirkan dapat memiliki berat badan yang rendah, mudah sakit-sakitan,
dan memengaruhi kecerdasannya. Sehingga ibu
hamil harus pintar dalam mengatasi dan
mengantisipasi akan hal demikian yang memungkinkan anaknya lahir
dengan berat badan yang rendah.
A.
Nutrisi yang
Dibutuhkan Ibu Hamil
Nutrisi
yang dibutuhkan ibu hamil digolongkan menjadi dua kelompok yaitu zat gizi makro dan zat gizi mikro. Penulis, akan
menguraikan satu persatu mengenai materi-materi tentang asupan gizi /makanan
tambahan yang dibutuhkan bagi ibu hamil, antara lain:
1. Zat gizi makro
Ada beberapa macam zat gizi makro, antara lain: karbohidrat,
lemak, dan protein.
1.1. Energi
energi didapat dari karbohidrat, lemak, dan protein, masing-masing zat gizi memiliki komposisi tersendiri
terhadap pemenuhannya menjadi energi.
Karbohidrat memberikan asupan 60-75% dari jumlah energi total,
protein memberikan asupan 10-15% dari kebutuhan energi total,sedangkan lemak memberikan asupan 10-25%
darikebutuhan energi total. Apabila
seseorang memiliki berat berat badan yang kurang dari berat badan ideal, maka kebutuhannya di tambah sebesar 500
kkal. banyaknya energi yang harus
dipersiapkan selama kehamilan hingga
terjadi persalinan memerlukan sekitar 80.000 (dibulatkan) atau dibutuhkan 300 kkal setiap harinya diatas kebutuhan
wanita yang tidak hamil. Nilai itu
didasarkan keseimbangan antara protein dan lemak yang tertimbun dalam tubuh untuk pertumbuhan ibu dan janin.
Terdapat perbedaan kebutuhan ibu
hamil dalam setiap semesternya, hal tersebut dinyatakan dalam perbedaan tambahan energi per trimester.
1.2. Karbohidrat
Karbohidrat
berfungsi sebagai sumber energi. Karbohidrat yang terdapat dalam suatu makanan dapat berupa zat pati, sukrosa,
laktosa, dan fruktosa. Pemenuhan karbohidrat
harus seimbang dalam sumbangannya kepada energi,
tidak kurang dan tidak lebih. Karbohidrat yang dikonsumsi secara berlebih akan mengakibatkan terjadinya konversi
hidratarang yang berlebih itu menjadi lemak sehingga dapat menimbulkan
kegemukan (obesitas), sedangkan asupan
karbohidrat yang tidak mencukupi akan mengakibatkan tidak cukupnya glukosa yang tersedia untuk menghasilkan energi,
sehingga lemak digunakan hingga taraf
yang melampaui keadaan normal.
1.3. Lemak
Lemak
berfungsi sebagai pelarut vitamin A, D, E, dan K. Lemak juga berfungsi sebagai cadangan
energi untuk ibu pada saat ibu melahirkan. Kebutuhan lemak akan ibu hamil
sangat penting. Karena digunakan sebagai cadangan energi selama dan setelah proses melahirkan hingga menyusui. Oleh karena
itu ibu hamil harus mengonsumsi lemak dalam
jumlah yang seimbang, tidak boleh lebih ataupun kurang.
Kelebihan dalam mengonsumsi lemak dapat mengakibatkan kegemukan. Pilihan jenis asam emak yang baik adalah lemak yang tidak
diproduksi dalam tubuh melainkan diperoleh dari berbagai makanan. Asam lemak
esensial adalah asam lemak linoleat,
yaitu asam lemak yang tidak jenuh, serta omega 3. Asam lemak ini sangat baik untuk perkembangan otak saraf janin.
Sumber lemak memiliki dua jenis, yaitu lemak nabati dan
lemak hewani. Lemak hewani termasuk didalamnya adalah gajih yang berasal dari
berbagai hewan seperti sapi, kambing, unggas, juga mencakup lemak yang berasal
dari hasil hewan baik itu dari unggas ataupun bukan, seperti
telur, susu, beserta produk olahan lainnya, mentega, keju dan krim.
1.4.
Protein
Terdapat
dua macam sumber protein yang diperlukan tubuh sebagai zat pengatur, yaitu
protein nabati dan protein hewani. Selain digunakan sebagai pengatur, protein dalam tubuh juga digunakan sebagai
sumber energi. Berdasarkan fungsi
pokoknya, protein pada ibu hamil berfungsi sebagai pembangun jaringan tubuh pada janin, sehingga
asupan protein yang tidak sesuai atau
kurang mengakibatkan janin yang dikandung mengalami PJT (pertumbuhan janin
terhambat). Selain itu juga bayi
dapat mengalami mengalami BBLR, keguguran, dan cacat bawaan.
2.
Zat gizi mikro
Ada beberapa macam zat gizi mikro, antara lain: vitamin
dan mineral
2.1. Vitamin
Vitamin
merupakan unsur gizi yang dibutuhkan dalam tubuh demi tercapainya gizi seimbang, walaupun vitamin yang
dibutuhkan oleh tubuh bejumlah sedikit, akan tetapi sangat penting
untuk menunjang sebuah kehamilan dan
menciptakan bayi yang berkualitas. Vitamin dapat dibedakan menjadi dua kelompok yaitu, vitamin larut air dan larut lemak.
Vitamin yang termasuk kedalam vitamin
larut lemak adalah vitamin A, D, E, dan K. sedangkan vitamin yang larut
air adalah vitamin C dan B kompleks. Ada
berbagai jenis vitamin, semua vitamin sangat penting bagi pertumbuhan. Tetapi ada pula vitamin yang sangat
penting dan dibutuhkan pada masa
kehamilan, sehingga jumlahnya tidak boleh kurang dari anjurannya. Vitamin
tersebut antara lain:
2.1.1. Vitamin A
Vitamin
A memiliki peran yang penting selama masa kehamilan. Selain berperan penting dalam membantu pertumbuhan tulang dan
gigi, melindungi tubuh dari kanker, dan
mencegah kematian pada bayi (Ari Istiany dan Rusilanti, 2013: 56). Peran vitamin A antara lain juga untuk
pembentukan mata, rambut, kulit, organ dalam, fungsi rahim, dan
membantu dalam pertumbuhan jaringan sel dan
jaringan tulang. Walaupun vitamin A sangat dibutuhkan oleh ibu yang sedang hamil, tetapi mengonsumsi vitamin A secara
berlebih juga tidak dianjurkan sebab
dapat mengakibakan teratogen Kekurangan
mengonsumsi vitamin A dalam jangka panjang dapat mengakibatkan buta senja,
kelainan membran mukosa dan xeropthalmia (kelainan pada mata yang
mengakibatkan mata kering dan pelunakan pada kornea).
2.1.2. Vitamin B1 (Thiamin)
Kekurangan
vitamin B1 dalam jangka panjang menyebabkan penyakit beri-beri
2.1.3.
Vitamin B2 (riboflavin)
Vitamin B2 memiliki
fungsi sebagai konstituen dalam sejumlah enzim yang
terdapat dalam proses reduksi dan oksidasi yang terjadi pada jaringan tubuh. Akibat kekurangan vitamin B2 akan terlihat pada kulit,
khususnya pada kulit muka, dan juga
pada mata. Erupsi kulit seperti malam di sekitar hidung dan bibir. Keadaan ini
karena juga merupakan kekurangan vitamin B1.
2.1.4.
Vitamin B3 (niasin)
Fungsi vitamin B3 adalah
sebagai koenzim yang dibentuk oleh niasin. Sedangkan niasin dibutuhkan tubuh
untuk aktifitas metabolisme, terutama metabolisme glukosa, lemak,
dan alkohol. Selain itu niasin juga berfungsi memperlancar
peredaran darah, memperlancar sistem pernapasan, mengurangi sakit kepala, menjaga kesehatan kulit, dan kerja
sistem saraf. janin memelihara kesehatan
bibir, mata, tengorokan, kulit, ramut, dan organ dalam
2.1.5. Vitamin B12 (kobalamin)
Vitamin B12 merupakan
vitamin yang sangat jarang ditemukan dalam tanaman
berbeda dengan vitamin B kompleks lainnya, tetapi vitamin ini banyak dijumpai di makanan yang berbahan dasar daging ataupun
olahan daging. Vitamin B12 berfungsi
dalam pembentukan sel darah merah, keberfungsian sel sumsum tulang sistem pernapasan dan saluran cerna. Begitu
pentingnya vitamin B12, sehingga apabila
sampai mengalami defisiensi maka akan mengalami anemia
pernisiosa. Gejala yang ditimbulkan oleh anemia pernisiosa adalah rasa letih dan lemah yang hebat, depresi, mengantuk, mudah
tersinggung, dan pucat.
2.1.6.
Vitamin
C
Fungsi vitamin C yaitu
bekerja sebagai antioksidan, ikut membantu enzim dalam
menjalankan fungsinya didalam metabolisme tubuh, membantu dalam membentuk
kolagen, metabolisme protein, mempercepat penyembuhan luka, membantu penyerapan zat besi, meningkatkan ketahanan tubuh
terhadap bahaya infeksi, dan mencegah kanker.
2.1.7. Vitamin D
Vitamin
D memberikan andil yang besar dalam kehamilan, sehingga apabila
seorang ibu mengalami defisiensi vitamin D selama kehamilan maka akan mengakibatkan gangguan metabolisme kalsium pada
ibu dan janin. Kejadian ini biasanya
dialami oleh ibu yang bermukim ditempat yang mendapatkan sinar matahari, sehingga sintesis vitamin D oleh kulit
tidak terjadi. Di Amerika sumber vitamin
D berasal dari susu yang telah ditambahkan vitamin D.
2.2.
Asam Folat
Sekitar
24-60% wanita kekurangan asam folat baik di Negara berkembang ataupun Negara maju. Asam folat merupakan
jenis vitamin yang masuk kedalam vitamin B9, dan termasuk
vitamin larut air, sehingga tidak dapat disimpan
dalam tubuh. Kekurangan asam folat yang parah dapat mengakibatkan anemia
megaloblastik, karena asam folat berfungsi
dalam metabolisme makanan menjadi energi, pematangan sel darah merah, sintesis DNA,dan pertumbuhan sel.
2.3.
Mineral dan Air
Terdapat
berbagai macam jenis mineral yang dibutuhkan, mineral ini tidak
disintesis sendiri oleh tubuh sehingga harus mengonsumsi makanan yang mengandung mineral untuk memenuhinya. Walaupun
mineral yang dibutuhkan oleh tubuh
sedikit tetapi memiliki peran yang penting. Jenis mineral yang banyak dibutuhkan
oleh ibu hamil adalah kalsium, fosfor, magnesium, besi, dan yodium. Terdapat 65% air yang terdapat dalam tubuh. Air
merupakan komponen yang paling
penting yang berasal baik berasal dari makanan maupun minuman. Kehilangan air dapat terjadi melalui urine, feses,
keringat, dan udara pernapasan
Ada
macam- macam jenis mineral yang dibutuhkan selama kehamilan, antara
lain:
2.3.1. Kalsium
Konsentrasi
kalsium serum pada janin lebih besar dari pada ibu. Kalsium pada fetus digunakan untuk pembentukan tulang. Pada
dasarnya setengah
kalsium dalam darah
bersama albumin turun selama kehamilan. Kalsium mengandung
mineral yang penting untuk perumbuhan janin dan membanu kekuatan
kaki dan punggung.
2.3.2. Phosphor
Phosphor
sangat penting untuk membantu pertumbuhan tulang dan gigi. Kekurangan sumber asupan ini akan mengakibatkan
pengambilan simpanan pada ibu, dan penurunan
kesehatan ibu. Fosfor yang dikonsumsi kemudian diambil
dari tulang ibu hamil dan selanjutnya ditansfer ke janin.
2.3.3. Besi
Besi
berfungsi sebagai pertumbuhan tulang janin bersama dengan kalsium dan protein. Besi juga berfungsi untuk
mengebangkan jaringan tisu, terutama otak dan jenis kelamin. Besi
adalah komponen pembentuk hemoglobin darah
yang berfungsi mengangkut oksigen. Besi juga dibutuhkan untuk kekebalan
janin terhadap berbagai penyakit infeksi, membantu pertumbuhan dan perkembanan otak janin dan daya tahan ibu.
2.3.4. Magnesium
Janin memerlukan 1 gr magnesium. Konsentrasi magnesium
meningkat selama kehamilan dengan RDA 320
mg dan 50% dari magnesium diserap oleh ibu.
Magnesium dibutuhkan oleh tubuh untuk mendukung pertumbuhan dari jaringan lunak.
2.3.5. Yodium
Menurut
Arisman (2010), kekurangan yodium selama hamil mengakibatkan janin mederita hipotiroidisme yang selanjutnya berkembang
menjadi kretinisme karena peran hormon tiroid dalam perkembangan
dan pematangan
otak menempati posisi strategis.
B.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Gizi Ibu
Hamil dan Janin
Status
gizi ibu yang rendah dapat dipengaruhi oleh:
1. Keadaan Sosial dan Ekonomi
Keadaan
ini dikaitkan dengan adanya kemiskinan dari suatu keluarga akibat dari
rendahnya pendidikan, sehingga tingkat konsumsi pangan dan gizi menjadi rendah, buruknya sanitasi dan hygiene. Pengaruh keadaan sosial dan ekonomi terhadap status
gizi ibu hamil adalah, apabila seseorang dengan
keadaan ekonomi yang berkecukupan maka kemungkinan
besar akan mengonsumsi makanan yang bergizi tinggi, apalagi dengan adanya
pemeriksaan secara rutin, maka kecukupan makanan yang dikonsumsi
akan jelas terpantau.
2. Kebiasaan dan Pandangan Wanita terhadap Makanan
Wanita
yang sedang hamil dan berkeluarga biasanya akan memerhatikan kecukupan gizi dari anggota keluarga yang lain. Padahal
ibu hamil sendiri itulah yang seharusnya
mendapatkan perhatian tentang gizi itu sendiri dan penanganannya harus serius mengenai penambahan gizi yang
dibutuhkan.
3.
Pengetahuan
Zat Gizi dalam Makanan
Pengetahuan
yang dimiliki oleh sorang ibu akan memengaruhi dalam pengambilan keputusan dan juga akan berpengaruh pada
perilakunya. Ibu dengan pegetahuan gizi
yang baik kemungkinan akan memberikan gizi yang cukup pada bayinya
hal ini lebih penting lagi apabila ibu memasuki masa ngidam, yang biasanya perut enggan dimasuki makanan apapun
yang bergizi, karena rasa mual yang dirasakan, justru akan memilih
makanan dengan rasa segar dan asam. Walaupun
dalam kondisi yang demikian apabila seorang ibu memiliki pengetahuan yang baik
maka ibu tersebut akan berusaha untuk memenuhi kebutuhan gizinya dan juga
bayinya.
4.
Jarak Kelahiran yang Terlalu Dekat
Jarak
antara dua kelahiran yang terlalu dekat atau kurang dari setahun dapat menyebabkan buruknya status gizi ibu hamil, sehingga
beresiko untuk melahirkan bayinya dengan berat badan lahir rendah atau bayi
premature.
5.
Usia
Kehamilan Pertama
Ibu
hamil yang memiliki usia muda atau remaja cenderung memiliki berat badan yang kurang selama hamil. Selain itu tubuh remaja
yang sudah mengalami kehamilan pada umumnya
belum terlalu matang untuk kondisi yang demikian. Hal tersebut dapat mengakibatkan bayi yang dilahirkan
memiliki berat badan lahir rendah atau BBLR,
selain itu pula ibu akan mengalami kesulitan pada saat melahirkan. Usia 25- 32 tahun adalah usia yang paling baik
untuk hamil dan menjalani proses melahirkan.
Semakin muda ataupun semakin tua
usia ibu hamil akan berpengaruh terhadap
gizi yang diperlukan. Usia muda memerlukan tambahan gizi yang cukup banyak karena selain digunakan untuk pertumbuhan dan
perkembangan dirinya sendiri juga harus
berbagi dengan janin yang sedang berada dalam kandungan. Sedangkan usia ibu yang tua juga memerlukan energi yang
besar karena organ yang terdapat dalam tubuh sudah melemah dan
diharuskan untuk bekerja secara maksimal,
maka memerlukan tambahan energi yang cukup guna mendukung kehamilan yang sedang
berlangsung.
6.
Status Kesehatan
Status
kesehatan seseorang mungkin memengaruhi tergadap nafsu makannya. Seorang ibu yang dalam keadaan sakit otomatis
akan memiliki nafsu makan yang berbeda dengan
ibu yang dalam keadaan sehat. Namun setiap ibu harus
selalu ingat bahwa gizi yang akan ia dapatkan diperlukan untuk memenuhi
kebutuhan dua orang, yaitu ibu hamil itu sendiri dan sang calon bayi.
C. Bahan
Makanan yang Cocok untuk Ibu Hamil
1) Bahan Makanan yang Dianjurkan
Seorang wanita harus memenuhi
kebutuhan gizinya yang cukup untuk diri dan bayinya. Ibu hamil memerlukan
nutrisi yang lebih banyak untuk memenuhi gizi
keduanya, berikut ini merupakan daftar AKG gizi ibu hamil dan sumber bahan pangannya:
Kebutuhan
|
Banyaknya
|
Sumber
|
Kalori,
kkal
|
2535
|
Lemak,karbohidrat,protein(nasi,kentang, jagung, minyak,
lemak hewan, terigu, ubi- ubian) |
Protein,
gr
|
60
|
Ayam, telur, daging, ikan, susu, tempe, tahu, kacang-
kacangan
|
Kalsium,
mg
|
900
|
Ikan teri, susu,dan hasil olahannya, sayuran hijau kacang‑kacangan
|
Besi,
gr
|
46
|
Hati, daging, beras tumbuk, kacang-kacangan, sayuran
hijau
|
Fosfor,
mg
|
620
|
Gandum, biji bunga matahari, biji labu, beras,
kacang-kacangan
|
Yodium,
ug
|
175
|
Nanas,
ikan, strawberry, sayuran hijau, kacang tanah
|
Seng,
mg
|
20
|
Gandum, telur, jamur, daging merah, telur, ikan,
biji-bijian, dan kacang-kacangan lainnya
|
Vitamin C,
mg |
70
|
Jambu biji, jeruk,nanas,semangka,mangga,papaya, apel, strowbery,
asparagus, dan sayuran hijau
|
Asam Folat,
ug |
300
|
Hati ayam, susu,
sayuran hijau, asparagus, biji bunga matahari, jamur,
kedelai, kacang polong, sereal, melon, pisang, lemon, strawberry, dan jeruk
|
Vitamin B12, mg
|
2,3
|
Daging,hati, susu,
jamur,telur,yogurt,ikan,dan seafood
lainnya. |
Vitamin B3,
mg |
10,6
|
Biji-bijian,brokoli,jamur,asparagus,ikan,daging,kacang‑
kacangan, dan sayuran hijau |
Vitamin B2,
mg |
1,2
|
Susu dan produk olahannya,sayuran hijau, buah-buahan
,kacang-kacangan,
biji-bijian, hati dan telur
|
Vitamin B1,
mg |
1,1
|
Daging, kacang-kacangan, biji-bijian, padi-padian,
semangka, mangga, pisang, jagung, wortel,
buncis, kacang panjang, dan tomat
|
Vitamin A,
Mg
|
700
|
Hati ayam,
sayuran berwarna seperti wortel, buah-buahan
berwarna merah, mentega, kuning telur, dan minyak ikan |
Tabel 2.1. Daftar AKG Gizi Ibu Hamil
Jika
seorang ibu hamil memiliki kekurangan terhadap asupan gizinya, maka akan berakibat buruk bagi bayi yang dikandungnya.
Begitu pula apabila ibu memiliki kelebihan asupan
gizi, hal itupun tidak baik bagi perkembangan sang janin.
2) Bahan Makanan yang Tidak Dianjurkan
Dalam
memenuhi gizinya, ibu hamil harus pintar dalam mengelompokan bahan makanan yang harus dikonsumsi dan yang tidak boleh
dikonsumsi. Berikut adalah bahan makanan yang tidak dianjurkan untuk dikonsumsi:
a). Makanan
yang miskin zat gizi tetapi kaya kalori, seperti gula, lemak, permen, kue-kue bermentega, dan krim kental. Bahan makanan
ini dapat menyebabkan obesitas dan
mengenyangkan
b).
Makanan yang mengandung
garam dengan konsentrasi tinggi, seperti kornet, ikan
asin, dan sayuran kalengan. Hal ini dapat memicu kenaikan tekanan darah
c).
Alkohol, kopi, dan minuman bersoda yang dapat
memicu timbulnya hipertensi
d). Makanan yang diolah tidak sempurna dan mentah. Seperti
ikan salmon mentah, steak setengah matang, telur
mentah atau setengah matang, dan susu
segar. Makanan tersebut dikhawatirkan masih mengandung bekteri yang berbahaya, seperti bakteri Listeria monocytogenes penyebab
keguguran, bakteri E. coli yang dapat merusak usus
dan sel ginjal, serta bakteri Salmonella penyebab
keracunan
e). Makanan yang mengandung zat aditif sintetis, seperti
penyedap rasa, pewarna, pengawet, pemberi rasa, pemanis, dan penambah
aroma (aneka essens)
f). Makanan yang
terlalu manis
D. Program Makanan Tambahan Pemulihan
1).
Sasaran Program
Berdasarkan Depkes RI tahun 2012, Sasaran Pemberian
Makanan Tambahan ibu hamil adalah ibu hamil yang berisiko KEK dengan pita LiLA
< 23,5 cm. Untuk menentukan sasaran penerima
PMT Pemulihan, balita dan ibu hamil dengan
kriteria tersebut di atas perlu dikonfirmasi kepada Tenaga Pelaksana Gizi
atau petugas puskesmas.
2). Prinsip Program Makanan Tambahan Ibu Hamil
a). PMT Pemulihan diberikan dalam bentuk makanan atau bahan
makanan lokal dan tidak diberikan dalam bentuk uang.
b). PMT Pemulihan hanya sebagai tambahan terhadap makanan yang
dikonsumsi oleh balita dan ibu hamil sasaran sehari-hari,
bukan sebagai
pengganti makanan utama.
c). PMT Pemulihan dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan gizi
balita dan ibu hamil sasaran sekaligus sebagai proses pembelajaran dan sarana
komunikasi antar ibu dari balita sasaran.
d). PMT pemulihan merupakan kegiatan di luar gedung puskesmas dengan pendekatan pemberdayaan masyarakat yang dapat diintegrasikan dengan kegiatan lintas program dan sektor
terkait lainnya.
e). PMT Pemulihan
dibiayai dari dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK).
Selain itu PMT pemulihan dapat dibiayai dari bantuan lainnya seperti
partisipasi masyarakat, dunia usaha dan Pemerintah Daerah.
E. Pola Makan Pada Ibu Hamil
Pola
makan adalah suatu informasi mengenai jenis dan jumlah pangan yang dikonsumsi
seseorang atau sekelompok orang pada waktu tertentu, sehingga penilaian konsumsi pangan dapat berdasarkan pada
jumlah maupun jenis makanan yang dikonsumsi. Pola makan yang disesuaikan berkaitan lebih utama dengan
waktu dan cara makan. Masalah jenis makanan dan
zat nutrisi yang terkandung didalamnya adalah sebuah
ketetapan yang harus dipenuhi. Tinjauan medis mengatakan bahwa sebaiknya
dalam memenuhi peningkatan kebutuhan asupan gizi yang ada ibu hamil melakukannya secara bertahap. Prinsipnya
makan sedikit-sedikit tetapi sering
lebih diutamakan dibandingkan makan besar sekaligus. Selain itu perlu diperhatikan perubahan umum yang terjadi dalam
kehamilan seperti betambahnya berat badan yang sebagian besarnya terdiri
dari cairan.
Tujuan penataan gizi pada
ibu hamil adalah menyiapkan:
a. Cukup kalori, protein yang bernilai biologis tinggi,
vitamin, mineral, dan cairan untuk memenuhi
kebutuhan zat gizi ibu, janin, dan plasenta.
b. Makanan padat kalori dapat membentuk lebih banyak jaringan
tubuh bukan lemak
c. Cukup kalori dan zat gizi untuk memenuhi pertambahan berat
badan yang dianjurkan selama kehamilan
d. Perencanaan dan perawatan gizi yang diatur sedemikian
rupa yang memungkinkan ibu hamil untuk
memperoleh dan mencukupi kebutuhan gizinya
sehingga dapat menjalani kehamilan yang seharusnya
e. Perawatan gizi yang dapat mengurangi atau menghilangkan
reaksi mual dan muntah secara berlebihan
f. Perawatan gizi yang dapat membantu pengobatan yang dapat
menyulitkan selama proses kehamilan berlangsung
i. Mendorong ibu hamil sepanjang waktu untuk menerapkan
kebiasaan makan yang baik yang dapat
diturunkan untuk kebiasaan anaknya kelak.
F. Menu Seimbang untuk Ibu Hamil dan Janin
Hal
yang mendasari harusnya mengonsumsi makanan seimbang pada ibu hamil adalah masa kehamilan merupakan masa terjadinya
wanita dalam keadaan hamil mengalami stress
fisiologis karena terdapat penyesuaian tubuh ibu terhadap
perubahan fisik tubuh. Penataan makan pada ibu hamil sebenarnya sama dengan ibu
yang tidak hamil, namun baik kualitas maupun kuantitasnya harus mengalami peningkatan melalui pola makan dan
kebiasaan makan yang baik. Pola makan dan
kebiasaan makan yang baik adalah menu makanan yang seimbang dengan jenis makanan yang bervariasi.
Dalam penyusunan menu
seimbang dapat dilakukan dengan melakukan perencanaan. Yaitu:
1. Perencanaan menu seimbang bagi ibu hamil
(1)
Zat tenaga
(2)
Zat pembangun
(3)
Zat pengatur
2. Persentase pembagian makanan dalam sehari
(1) Makan pagi :
jam 07.00 : 25%
(2) Selingan pagi :
jam 10.00 : 10%
(3) Makan siang :
jam 12.00 : 25%
(4) Selingan siang :
jam 15.00 : 10%
(5) Makan malam :
jam 18.00 : 25%
(6) Selingan malam :
jam 20.00 : 10%
G. Pengaturan Makanan Selama Hamil
Selama
masa kehamilan, sangat dibutuhkan asupan bahan makanan yang bernilai gizi tinggi dan diperlukan dalam menjada
kesehatan dan meningkatkan kecerdasan janin.
Oleh karena itu, agar ibu dan janin tetap mendapat asupan gizi, berikut beberapa saran yang bisa dilakukan:
a)
Jangan biarkan perut
kosong.
b)
Pilih makanan yang
hangat- hangat karena bisa membuat lambung yang terasa
perih seperti terelaksasi.
c)
Saat bangun pagi, jika
belum nafsu makan, maka makanlah biscuit dan teh hangat.
Namun begitu, ibu harus tetap mencoba sarapan.
d) Bila ibu sering merasa kembung, hindari makanan yang dapat
memicu kembung antara lain kacang tanah yang biasa berada
didalam bumbu kacang.
e)
Batasi masakan bersantan,
ketan, nangka, sayur nangka, sayur asem, buahbuahan yang asam atau dapat
mengiritasi lambung.
f)
Penting untuk menghindari
rokok, cuka, kopi, juga narkoba karena akan membahayakan
ibu maupun janin.
g) Umumnya ibu hamil memuthkanlebh
banyak darah, untuk itu ibu hamil diharuskan
mengonsumsi makanan yang banyak mengandung zat besi, seperti sayuran hijau tua, tempe, tahu, kacang hijau,
kacang merah, dan kacang-kacangan lainya, telur, ikan, daging. Jangan lupa
minum obat penambah darah sesuai anjuran dokter.
h) Penting pula bagi ibu hamil untu
makan buah-buahan segar seperti jeruk, apel,
papaya, dan sebagainya. Buah-buahan berfungsi untuk menyuplai vitamin.
Kurang energi pada ibu
hamil harus sangat dihindari dalam masa kehamilan.
Hal tersebut akan memengaruh keadaan bayi kedepannya yang memungkinkan tidak
sesuai harapan. Ibu hamil dan janinnya rentan terhadap dampak krisis energi yang sedang terjadi. Asupan nutrisi
pada ibu hamil sangat berpengaruh pada
kehamilan. Kehidupan manusia dimulai sejak berada dalam rahim ibu. Sejak saat itu, manusia kecil telah memasuki
masa perjuangan hidup yang sala satunya
menghadapi kemungkinan kurangnya zat gizi yang diterima dari ibu yang
mengandungnya. Jika zat gizi yang diterima dari ibunya tidak mencukupi maka janin tersebut akan mempunyai konsekuensi
kurang meguntungkan dalam kehidupan berikutnya.
BAB III
PERMASALAHAN
DAN PEMBAHASAN
Pernyataan yang terdapat dalam program
pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat
disebutkan bahwa salah satunya terfokus pada kesehatan ibu dan anak serta perbaikan gizi. Sasaran yang menjadi
prioritas utama adalah golongan rawan gizi seperti ibu hamil yang mengalami KEK
(Kurang Energi Kronis) dan Anemia
gizi. Tetapi pada penulisan makalah, penulis hanya menekankan pada permasalahan
golongan rawan gizi ibu hamil yang mengalami KEK dan anemia gizi.
Sejatinya, ibu hamil yang
sehat dan cukup gizi tentunya akan menghasilkan bayi yang sehat pula serta memiliki kematangan organ yang sesuai dan tidak
memberikan cacat seumur hidup bagi janin dalam kandungannya. Sumber daya
manusia ibu hamil yang cukup gizi dan berkualitas sangat diperlukan untuk membangun Indonesia pada umumnya dan menjadi
generasi penerus kebanggaan bagi masyarakat Indramayu dimasa yang akan datang. Sedangkan ibu hamil yang mengalami KEK cenderung
melahirkan bayi dengan berat badan rendah,
kondisi bayi dengan berat badan rendah dapat terjadi karena akibat prematur ataupun pertumbuhan janin yang
terhambat. Hal tersebut berpengaruh
terhadap kualitas bayi yang dilahirkan karena dapat memiliki beberapa kekurangan, yaitu bayi akan mengalami
BBLR, PJT, cacat bawaan, atau organ yang tidak berfungsi
secara maksimal.
Keadaan ibu hamil dengan
KEK maupun BBLR tersebut dapat diantisipasi dengan dengan berbagai cara, salah
satunya adalah dengan pegaturan pola makan.
Pengaturan pola makan disini berdasarkan pada bagaimana ibu mengatur jumlah dan jenis bahan makanan yang dikonsumsi
dalam beberapa waktu. Karena pada dasarnya apabila ibu hamil masih bekerja maka
ibu akan memilih bahan makanan yang cepat dalam pengolahannya dan apabila ibu mempunyai
anak maka akan mengutamakannya dibandingkan dengan makanan yang dibutuhkannya
sendiri. Karena apabila ibu mengonsumsi suatu zat gizi lebih
atau kurang dengan
anjuran yang ditetapkan maka akan sangat berpegaruh terhadap
tumbuh kembang dan pertumbuhan janin.
Penulis menilai pentingnya memberikan
informasi mengenai syarat makanan
sehat bagi ibu hamil agar janin yang dikandungnya mendapatkan asupan gizi yang
baik, antara lain:
- Menyediakan energi yang cukup (kalori) untuk kebutuhan kesehatan tubuh ibu hamil dan pertumbuhan bayi
- Menyediakan semua kebutuhan ibu hamil dan janin (meliputi protein, lemak, vitamin, mineral)
- Mendukung metabolisme tubuh ibu hamil dalam memelihara berat badan sehat, kadar gula darah, dan tekanan darah.
Penulis menyadari, dengan terbitnya Peraturan
Menteri Kesehatan Nomor 23 Tahun 2014 tentang Upaya Perbaikan Gizi, maka hal
tersebut memberikan sebuah ultimatum bagi penulis maupun bagi institusi kami di
UPT Puskesmas Margadadi Kecamatan Indramayu agar secara komprehensif melakukan
tindakan-tindakan dan langkah-langkah untuk menunjang dan melaksanakan amanah
dari peraturan perundang-undangan tersebut. Untuk itu baik secara pribadi
maupun secara institusi akan melakukan beberapa langkah-langka, antara lain:
a.
penyelengaraan dan fasilitasi gizi bagi ibu
hamil;
b.
penyelenggaraan penanggulangan gizi buruk
bagi ibu hamil;
c.
memenuhi kecukupan dan
perbaikan gizi pada masyarakat terutama pada keluarga miskin, rawan gizi,
dan dalam situasi darurat berupa Pemberian Makanan Tambahan (PMT).
d.
meningkatkan pengetahuan dan kesadaran
masyarakat akan pentingnya gizi dan pengaruhnya terhadap peningkatan status
gizi bagi ibu hamil melalui kelas ibu hamil , dan
e.
Membuat Peraturan Daerah ataupun Peraturan
Bupati/Keputusan Bupati mengenai Upaya Perbaikan Gizi untuk kelompok rawan gizi
khususnya untuk ibu hamil, sesuai dengan tema makalah yang penulis buat,
Hal ini tentunya harus di
sinkronisasikan dan diselarakan dengan seluruh isi dan pasal-pasal yang
tertuang dalam Permenkes Nomor 23 Tahun 2014, sehingga tidak terjadi
kontradiksi dalam hal kewenangan dan otoritas yang di miliki oleh Pemerintah
Daerah sejalan dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan
Daerah.
Dengan adanya Peraturan
Daerah / Peraturan Bupati / Keputusan Bupati tersebut, penulis menganggap bahwa
dalam menjalankan tugas fungsi kedepannya akan memiliki payung hukum yang jelas
dalam melaksanakan implementasi dari Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 23 Tahun
2014.
Tentunya hal tersebut tidak
mudah, namun penulis berkeyakinan apabila ada kemauan dari seluruh stakeholder
insya allah akan terwujud suatu Peraturan Daerah / Peraturan Bupati / Keputusan
Bupati yang mengatur secara khusus dan spesifik tentang berbagai program
peningkatan gizi di wilayah Kabupaten Indramayu.
Penulis menyadari, untuk
melaksanakan hal tersebut tentunya penulis dan seluruh stakeholder harus
memiliki data-data statistik kelompok rawan gizi serta harus memiliki standar
angka kecukupan gizi yang akan dicapai, dan tentunya hal tentunya dibutuhkan perhitungan
dan perencanaan yang matang dan cermat dalam hal penyediaan pangan /gizi bagi
ibu hamil dengan mencantumkan informasi nilai gizi pada label pangan untuk
asupan tambahan gizi bagi ibu hamil.
Sebagai informasi, penulis
saat ini bekerja sebagai Bidan pada UPT Puskesmas Margadadi Kecamatan
Indramayu, yang dalam menjalankan aktivitas pekerjaannya seringkali berhadapan
dengan permasalahan ibu hamil. Ada 2 hal utama yang seringkali terjadi
permasalahan pada ibu hamil yatiu permasalahan Kurang Energi Kronis (KEK) dan ibu
hamil anemia gizi. Saat ini penulis memiliki data yang dapat
dipertanggungjawabkan mengenai ibu hamil
yang anemia gizi dan terdata oleh penulis sampai dengan bulan April 2017
tercatat sebanyak 37 ibu hamil yang menderita anemia gizi.
Penulis sampai saat ini
hanya mampu melakukan tindakan penanganan yang ringan dengan memberikan tablet tambah darah dan tambah
asupan gizi melalui program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) misalnya berupa
biscuit, susu, kacang hijau ataupun makanan bergizi lainnya dan memberikan
bimbingan dan penyuluhan melalui kelas ibu hamil. Selebihnya penulis hanya
mampu memberikan rujukan dan memberikan informasi, padahal untuk kasus-kasus
tersebut seharusnya penulis melakukan tindakan kuratif berupa tindakan
pengobatan. Penulis menyadari betul, kemampuan yang belum maksimal dalam
melakukan tindakan kuratif (pengobatan) bagi ibu hamil. Hal tersebut menjadi
keprihatinan bagi penulis, untuk itulah penulis mengangkat tema ini agar dapat
menjadi motivasi bagi penulis melalui sumbangan pemikiran agar dapat di respon
oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Indramayu untuk membuat suatu regulasi daerah
yang selaras dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 23 Tahun 2014.
Gambar
3.1. Pemberian Makanan Tambahan (PMT)
berupa
Biskuit bagi Ibu Hamil
Selain dari itu penulis juga
melakukan penyuluhan dan motivasi pada ibu hamil melalui kunjungan rumah dan
kelas ibu hamil serta Pemberian Makanan Tambahan (PMT). Aktivitas lainnya yang
juga penulis lakukan yaitu, melakukan pelayanan di posyandu-posyandu, pembinaan
kader-kader posyandu dan memberikan rujukan ke puskesmas/Rumah Sakit (RSUD) bagi
ibu hamil yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Gambar
3.2. Pelayanan Pemeriksaan Pada Ibu Nifas
dan
Pemantauan Gizi Ibu Nifas
Gambar
3.3. Pelayanan Posyandu untuk Ibu Hamil dan Balita
Gambar
3.4 Kelas Ibu Hamil
Gambar
3.5. Pemantauan Rutin terhadap Gizi Ibu Hamil
Gambar
3.6. Kelas Ibu Hamil dan Bimbingan untuk Para Kader Posyandu
Permasalahan
yang seringkali muncul terkait tingginya angka KEK dan anemia gizi di wilayah
kerja UPT Puskesmas Margadadi Kecamatan Indramayu adalah karena tingkat
kesadaran dan ketaatan yang rendah bagi ibu-ibu hamil dalam melaksanakan saran
dan arahan yang telah disampaikan oleh para petugas kesehatan berkaitan dengan
gizi ibu hamil. Selain itu juga seringkali terjadi permasalahan akibat
penyimpangan perilaku sosiial yang mengakibatakan Kehamilan yang Tidak
Diinginkan (KTD), sehingga ibu hamil cenderung menyembunyikan kehamilannya
sehingga berdampak pada janin dan gizi ibu hamil.
ambar
3.7. Bayi Cacat Akibat KTD dan kurang gizi saat Ibu Hamil
Rendahnya
dukungan dari suami/keluarga dalam memberikan dukungan berupa asupan gizi yang
cukup juga memicu tingginya angka KEK dan Anema gizi bagi ibu hamil. Selain itu
juga rendahnya tingkat ekonomi ibu hamil merupakan faktor lain yang
mengakibatkan tingginya angka KEK dan anemia gizi.
Memperhatikan hal tersebut, penulis mencoba
melakukan beberapa langkah-langkah berupa tindakan, dan program kerja yang
nantinya akan dipublish secara konyinyu melalui secara online melalui website
dari UPT Puskesmas Margadadi.
Penulis mencoba memberikan gambaran informasi
mengenai upaya-upaya yang akan dilakukan untuk meningkatkan perbaikan gizi bagi
ibu hail, antara lain :
1.
Upaya promotif
Yaitu upaya promosi kesehatan yang di tujukan
untuk meningkatkan status gizi atau
derajat gizi yang optimal, sasarannya adalah kelompok ibu hamil. Tujuannya agar
Ibu hamil mampu meningkatkan gizi nya, sehingga kelompok ibu hamil yang sehat
akan meningkat dan kelompok ibu hamil kurang gizi akan menurun. Salah satu
bentu bentuk kegiatannya adalah dengan memberikan pendidikan kesehatan tentang
cara asupan gizi dan makanan tambahan untuk meningkatkan kadar gizi bagi ibu
hamil maupun janinnya.
Untuk, itu harus dillakukan beberapa
pelatihan bagi penulis dan rekan-rekan penulis yang agar menambah wawasan bagi
penulis, antara lain pelatihan berupa :
Melakukan
Pelatihan-Pelatihan :
1. Pelatihan
kelas ibu hamil
2. Pelatihan
konseling Ibu Hamil
3. Pelatihan
Pemantauan Pertumbuhan Janin
4. Pelatihan
Tatalaksana Gizi Buruk
5. Pelatihan pengelolaan Program Gizi Puskesmas
6. Dan beberapa pelatihan gizi lainnya yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan bidan dalam melaksanakan program gizi bagi ibu hamil
5. Pelatihan pengelolaan Program Gizi Puskesmas
6. Dan beberapa pelatihan gizi lainnya yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan bidan dalam melaksanakan program gizi bagi ibu hamil
Membuat Pedoman Program Gizi
Pedoman-pedoman yang harus dimiliki oleh oleh bidan /petugas gizi Puskesmas adalah :
1. Buku Surveilans Gizi
2. Buku Pegangan Kader Posyandu
3. Buku Manajemen pemberian Vitamin A
4. Buku Manajemen Pemberian Tablet Fe
5. Buku Pedoman Pemberian ASI
6. Buku Pedoman Pemberian Garam Beryodium
7. Buku Standar Pemantauan Pertumbuhan Janin
Membuat
catatan Output Program Gizi
Beberapa Output dari Program Gizi adalah
1. Jumlah Ibu Hamil dari keluarga miskin
3. Jumlah Ibu Hami Balita yang mendapatkan Kapsul Vitamin A
4. Jumlah Ibu Hamil yang mendapatkan tablet F3 dengan 90 tablet selama kehamilan.
5. Gambaran Status Gizi Janin
Beberapa Output dari Program Gizi adalah
1. Jumlah Ibu Hamil dari keluarga miskin
3. Jumlah Ibu Hami Balita yang mendapatkan Kapsul Vitamin A
4. Jumlah Ibu Hamil yang mendapatkan tablet F3 dengan 90 tablet selama kehamilan.
5. Gambaran Status Gizi Janin
6. Gambaran Konsumsi Gizi
7. Gambaran penggunaan Garam Beryodium
8. Laporan hasil Investigas dan Intervensi Gizi buruk. Dan beberapa laporan lainnya.
7. Gambaran penggunaan Garam Beryodium
8. Laporan hasil Investigas dan Intervensi Gizi buruk. Dan beberapa laporan lainnya.
Selain itu juga, menurut penulis menyarankan
sebaiknya Pemerintah Daerah Kabupaten Indramayu khususnya di UPT Puskesmas
Margadadi Kecamatan Indramayu memiliki Program penanggulangan gizi buruk bagi ibu hamil melalui
Program Jangka
Pendek, Menengah dan Panjang, yaitu :
Jangka pendek
a.
Upaya pelacakan
kasus melalui penimbangan bulanan di posyandu
b.
Rujukan kasus
KEP dengan komplokasi pengakit di RSUD
c.
Pemberian asupan gizi bagi ibu hamil di usia
kehamilan 0-6 bulan
d.
Pemberian
kapsul vitamin A
e.
Pemberian
makanan tambahan (PMP)
f.
Pemulihan bagi ibu hamil gizi buruk
dengan lama pemberian 3 bulan
h. Promosi makanan
sehat dan bergizi
bagi ibu hamil
Jangkah menengah
a. Revitalisasi
Posyandu
b.
Revitalisasi
Puskesmas
c.
Revitalisasi
Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi
Jangkah panjang
a. Pemberdayaan
masyarakat menuju Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi)
b.
Integrasi
kegiatan lintas sektoral dengan program penanggulangan kemiskinan dan ketahanan
pangan.
2. Upaya preventif
Yaitu upaya promosi perbaikan gizi yang
dilakukan bagi ibu hamil untuk mencegah terjadinya KEK dan Anemia Gizi. .Sasarannya
adalah kelompok ibu-ibu hamil rawan gizi, tujuannya untuk mencegah kelompok ibu-ibu
hamil rawan gizi agar tidak jatuh atau menjadi sakit, bentuk kegiatannya adalah
dengan melakukan imunisasi, pemeriksaan antenatal care, postnatal care, perinatal,
dan neonatal.
3. Upaya kuratif
Yaitu upaya promosi perbaikan gizi untuk
mencegah penyakit menjadi lebih parah melalui pengobatan, sasarannya adalah
kelompok ibu-ibu hamil rawan gizi terutama penyakit kronis, tujuannya agar
mampu mencegah penyakit tersebut tidak lebih parah, bentuk pengobatannya adalah
melalui pengobatan.
Penulis seringkali berhadapan dengan permasalahan
ibu-ibu hamil terutama terkait dengan KEK dan Anemia Gizi. Agar tidak
terjadinya kesalahan yang fatal dalam mengambil tindakan-tindakan, penulis
mengenali mengenali dulu tanda-tanda gizi buruk bagi ibu hamil, antara lain:
a. Wajah seperti orang tua
b. Sering
disertai: penyakit infeksi (diare, umumnya kronis berulang, TBC)
c. Tampak
sangat kurus (tulang terbungkus kulit)
d. Kulit
keriput, jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai tidak ada (~pakai celana
longgar-baggy pants)
e. Perut
cekung
f. Iga
gambang
g. diare
kronik atau konstipasi (susah buang air)
4.
Upaya rehabilitatif
Yaitu upaya promosi perbaikan gizi untuk memelihara dan memulihkan kondisi atau
mencegah kecacatan, sasarannya adalah kelompok ibu-ibu hamil kurang gizi yang baru
sembuh dari penyakit, tujuannya adalah pemulihan dan pencegahan agar tidak
terjadi kecacatan bagi janinnya. Setelah dilakukan rehabilitatif, penulis tanda-tanda kecukupan gizi pada ibu hamil, antara lain :
a. Berat badan normal sesuai tinggi dan bentuk tubuh
b. Postur tegak, tungkai dan lengan lurus
c.
Pencernaan nafsu makan baik
d. Jantung detak dan irama normal,
tekanan darah normal sesuai dengan usia
e. Otot kenyal, kuat, sedikit
lemak dibawah kulit
f. Syaraf perhatian baik, tidak
mudah tersinggung, refleks normal serta mental stabil
g. Vitalitas umum, ketahanan baik,
energik, cukup tidur dan penuh semangat
h. Tungkai kaki tidak
bengkak, normal.
i. Keadaan umum responsive dan gesit
j.
Rambut menkilat, kuat, tidak mudah rontook, kulit kepala
normal
k.
Kulit liciin,
lembab dan seegar
l.
Muka dan leher
warna sama, licin, tampak sehat, segar
m. Bibir licin,
lembab, tidak pucat, tidak bengkak
n.
Mulut tidak ada luka, selaput merah
o.
gusi merah normal, tidak ada pendarahan
p.
Lidah merah norrmal. Licin tidak ada luka
q. Gigi tidak berlubang, tidak nyeri, mengkilat, bersih,
tidak ada pendarahan, lurus dagu normall
r. Mata bersinar, bersih, konjungttiva tidak pucat, tidak
ada pendarahan
s. Kelenjar tidak ada pendarahan dan pembesaran
t. Kuku keras dan kemerahan
Setelah
4 tahapan tersebut dilakukan ( Promotif, Preventif, Kuratif dan Rehabilitatif) ,
penulis berharap tidak ada lagi ibu-ibu hamil yang menderita KEK dan Anemia
Gizi di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Margadadi Kecamatan Indramayu. Penulis
berharap dengan hadirnya makalah ini akan membuka wawasan khususnya bagi
penulis dan bagi pembaca pada umumnya. Selain itu juga penulis sangat
mengharapkan peran aktif dari Pemerintah Daerah Kabupaten Indramayu untuk
segera membuat regulasi sebagai tindak lanjut dari implementasi Peraturan
Menteri Kesehatan Nomor 23 Tahun 2014 tentang Upaya Perbaikan Gizi.
Semoga
dengan hadirnya makalah ini, membuat kita semua sadar begitu pentingnya asupan
gizi bagi ibu hamil, agar terciptanya generasi penerus bangsa yang memiliki
kesempurnaan fisik dan kecerdasan otak sehingga mampu mengangkat martabat
bangsa dan negara dapat sejajar dengan bangsa di negara-negara maju lainnya.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari makalah
diatas, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa upaya perbaikan gizi ibu hamil melalui Pemberian Makanan
Tambahan (PMT) dan kelas ibu hamil dapat dilakukan dengan cara :
1. Memberikan kesadaran bagi ibu hamil
agar meningkatkan asupan gizi baik
berupa protein, karbohidrat, lemak, vitamin ataupun asupan gizi lainnya;
2. Memberikan penyuluhan dan bimbingan
bagi ibu hamil dalam meningkatkan kesadaran tentang pentingnya gizi melalui
kegiatan kelas ibu hamil;
3. Tradisi kuno masyarakat yang
melarang bagi ibu-ibu hamil untuk mengkonsumsi makanan tertentu yang membuat
ibu hamil kurang gizi, hendaknya mulai ditinggalkan;
4. Asupan gizi bagi ibu hamil sangat
berpengaruh erat dengan janin yang dikandungnya agar bayi yang dilahirkan tidak
mengalami cacat bawaan, oleh karenanya ibu hamil harus mampu meningkatkan
pemberian makanan sehat dan menghindarkan diri dari makanan-makanan yang dappat
memberikan efek negatif bagi janin yang dikandungnya;
B. Saran
1. Diharapkan bagi
petugas kesehatan
khususnya bidan ( sebagai profesi dari penulis) agar dapat
memberikan pendidikan kesehatan berupa penyuluhan melalui kelas ibu hamil
mengenai gizi seimbang pada masa kehamilan agar dapat mengurangi kekurangan
gizi pada ibu hamil.
2. Bagi ibu hamil
agar rajin memeriksakan kehamilannya secara rutin (minimal 1 bulan sekali)
untuk menjaga agar kenaikan berat badan tetap terjaga dengan cara menimbangs
badan.
3. Ibu hamil
sebaiknya selalu mengkonsumsi setidaknya dua gelas susu sehari atau santaplah
hasil produksi ternak lainnya.
4. Bagi ibu hamil
sebaiknya makan makanan yang benar-benar bergizi agar ibu dan janinnya selalu
sehat, melalui program Pemberian Makanan
Tambahan (PMT)
5. Sebaiknya ibu
hamil segera menghubungi tenaga kesehatan terdekat jika terjadi tanda-tanda
komplikasi kehamilan agar dapat segera memperoleh penanganan.

hay bunrat... ☺☺
BalasHapus