UPAYA MENANGGULANGI DEKADENSI MORAL SISWA PEREMPUAN
DENGAN KETELADANAN DI SMA NEGERI 1 JATIBARANG”
oleh :
YANTI SUSILAWATI
Abstrak
Globalisasi
ditunjukkan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). Perkembangan Iptek memberikan dampak yang sungguh luar biasa. Di samping
dampak
yang
positif, pada kenyataannya
perkembangan Iptek menggoreskan banyak persoalan negatif, terutama kemerosotan moralitas generasi
bangsa (dekadensi moral).
Sebagai bawaan dari perkembangan
Iptek, sikap
konsumeristis, hedonistis, dan sekuleristis merupakan embrio terjadinya dekadensi moral
generasi.
Hal ini
diperparah lagi ketika dekadensi moral
ini sudah menggejala di kalangan pelajar tunas-tunas bangsa. Untuk itu penulis membuat fokus kajian, bagaimana
upaya menanggulangi dekadensi moral siswa
perempuan dengan keteladanan di SMA Negeri 1 Jatibarang?.
Tujuan penulisan
ini untuk mengetahui apakah upaya menanggulangi dekadensi moral siswa perempuan
dengan keteladanan di SMA Negeri 1 Jatibarang berdampak positif.
Rekomendasi yang menjadi simpulakan yakni bahwa: (1)Titik tumpu pendidikan
moral merupakan salah satu alat yang ampuh dalam menanggulangi dekadensi
moral siswa perempuan di SMA Negeri 1 Jatibarang. Peran guru dengan cara
memberikan bimbingan, diskusi persuasif, pemahaman masalah yang terjadi dan
memberikan solusi terbaik untuk siswa, dapat memberikan siswa perempuan SMA
Negeri 1 Jatibarang termotivasi untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya
dengan baik. (2) Perlu diingat bahwa krisis moralitas
yang terjadi di kalangan remaja
generasi bangsa salah satu indikator penyebab terbesarnya adalah
kegagalan dari dunia pendidikan, baik
pendidikan formal, nonformal, maupun
informal. Dengan demikian
ketiga lembaga tersebut
harus berbenah, bersatu-padu, bersinergi secara
efektif dalam menanamkan nilai-nilai moralitas
dan tata krama budi pekerti
yang luhur. Jika ketiga lembaga
ini saling mengisi, diharapkan akan dapat membentuk
anak didik, sebagai generasi masa depan, yang bermoral luhur mulia. (3) Keteladan merupakan hal yang
paling nampak, tidak bisa di elakkan begitu saja. Sikap dan perbuatan yang
nyata menjadi pelajaran langsung bagi siswa perempuan untuk menjadi perempuan
yang berakhlakul karimah dan berkualitas
Abstract
Gobalization
is indicated by the development of science and technology (Science and
Technology). The development of science and technology provides an
extraordinary impact. In addition to the positive effect, in fact, the
development of science and technology carve many negative issues, especially
the young generation moral decline (decadence). As a native of the development
of science and technology, attitude consumerist, hedonistic, and sekuleristis
embryonic generation occurrence of moral decadence. This is further aggravated
when this moral decadence among students has been implicated in the nation's
shoots. To the authors make the focus of the study, how the effort to cope with
the decadence of female students by example in Senior hight school1 1 Jatibarang ?.
The
purpose of this paper to know whether efforts to tackle decadence with
exemplary female students at Senior hight school1 Jatibarang positive impact.
The
recommendations are that: (1) Fulcrum
moral education is one powerful tool in tackling the moral decadence of female
students at Senior hight school1 Jatibarang. The role of teachers by providing
guidance, persuasive discussions, understanding the problem and provide the
best solution for students, can provide female students of SMAN 1 Jatibarang
motivated to carry out its duties and responsibilities well. (2) Keep in mind
that the crisis of morality that occur among adolescents generation of people
one indicator is the biggest cause of failure of education, both formal,
non-formal or informal. Thus the three institutions must improve, be united,
work together effectively in instilling moral values and manners of noble
character. If the three institutions are complementary, are expected to form
the students, as future generations, the virtuous noble noble. (3) keteladan is
the most visible, can not be evaded granted. The real attitudes and actions
become direct lessons for girls to become women who good morality and qualified
BAB 1
PENDAHULUAN
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini menyisakan beberapa persoalan yang
perlu perhatian. Tidak dipungkiri masyarakat
modern telah berhasil mengembangkan
ilmu pengetahun dan teknologi untuk menjadi alternatif penyelesaian masalah kehidupan sehari-hari (Iptek sebagai produk budaya),
namun pada kondisi lain ilmu pengetahuan dan teknologi canggih tersebut
kurang mampu menumbuhkan moralitas
(akhlak) yang mulia (Iptek sebagai faktor conditioning). Perkembangan teknologi saat ini, yang ditandai
hadirnya zaman modern, termasuk di Indramayu – Jawa Barat diikuti
oleh gejala dekadensi moral yang benar-benar berada pada taraf yang memprihatinkan. Akhlak mulia seperti
kejujuran, kebenaran, keadilan,
tolong menolong, tepo seliro (toleransi), dan saling mengasihi sudah mulai
terkikis oleh penyelewengan, penipuan, permusuhan,
penindasan, saling menjatuhkan, menjilat,
mengambil hak orang lain secara paksa dan sesuka hati, dan perbuatan-perbuatan
tercela yang lain. Kemerosotan
moral atau yang sering kita dengar dengan istilah ‘dekadensi moral’ sekarang ini tidak hanya melanda kalangan dewasa, melainkan
juga telah menimpa kalangan pelajar
yang menjadi generasi penerus bangsa, khususnya siswa perempuan yang
akan penulis bahas pada kesempatan ini. Orang
tua, guru, dan beberapa
pihak yang berkecimpung
dalam bidang pendidikan, agama dan sosial banyak mengeluhkan terhadap perilaku sebagian siswa perempuan
yang berperilaku di luar batas
kesopanan dan kesusilaan, semisal:
mabuk-mabukan, penyalahgunaan
obat terlarang, pergaulan seks bebas,
hamil di luar nikah dan sebagainya. Ini dapat menyebabkan gagalnya pendidikan
(putus sekolah).
Dekadensi
moral yang ditunjukan oleh siswa perempuan menjadi sesuatu yang disayangkan,
karena mencoreng kredibilitas dan kewibawaan dunia pendidikan. seperti yang
dialami oleh penulis saat melaksanakan tugas menemukan beberapa siswa perempuan
mengalami kemerosotan moral yang diakibatkan oleh kemajuan iptek. Seperti masalah siswa perempuan sebagai
berikut :
1.
Tidak disiplin, contoh si “Melati”
jarang masuk ke sekolah pada tahun pelajaran 2015/2016.
2.
Melawan orang tua dan guru, contoh si
“Bunga” pada tahun pelajaran 2015/ 2016.
3.
Hamil di luar nikah, contoh si “Mawar”
pada tahun pelajaran 2016/ 2017.
Para pelajar yang
seharusnya menunjukkan sikap dan perbuatan yang bermuatan akhlak mulia justru
menunjukkan tingkah laku yang sebaliknya.
Pendidikan memang mempunyai
dua fungsi utama, yaitu sebagai
transfer nilai (transformation
of value) dan transfer
pengetahuan (transformation of knowledge). Sebagai fungsi transfer nilai, dunia pendidikan
diharapkan mampu mentransfer nilai-nilai, norma-norma, dan budi
pekerti luhur (akhlakul karimah). Sebagai fungsi transfer
pengetahuan, dunia pendidikan
diharapkan mampu mentransfer ilmu pengetahuan dan teknologi pada anak didik.
Persoalan yang muncul kemudian adalah seiring
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
yang diagung-agungkan justru tidak
disertai dengan perkembangan nilai
atau moralitas yang baik, malah justru
sebaliknya. Untuk menghadapi
tantangan perkembangan zaman ini dibutuhkan pendidikan yang berwawasan
global, pendidikan yang memiliki nilai
lentur terhadap perkembangan zaman namun muatan nilai-nilai
moral tetap terpatri di dalamnya.
Sebagai
seorang pendidik, turut berperan andil dan bertanggungjawab dalam dunia
pendidikan. Suri tauladan yang baik dapat berpengaruh terhadap moral siswa
perempuan. Dari paparan di atas penulis, tertarik
mengangkat judul “Upaya Menanggulangi Dekadensi Moral Siswa Perempuan dengan
Keteladanan di SMA Negeri 1 Jatibarang”.
Tulisan
ini mencoba meneguhkan kembali peran strategis pendidikan moral terhadap
dekadensi moral siswa perempuan dengan meneladani sosok suri tauladan yang
baik. Untuk itu penulis membuat fokus kajian, bagaimana upaya menanggulangi dekadensi moral siswa perempuan
dengan keteladanan di SMA Negeri 1 Jatibarang?.
Harapan
penulis, dengan upaya ini dapat menjadikan siswa perempuan di SMA Negeri 1
Jatibarang menjadi siswa yang berakhlakul karimah, lulus dengan baik, dapat
melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi atau berwirausahan
BAB 2
PEMBAHASAN
Identifikasi
faktor-faktor penyebab dekadensi moral
Banyak faktor yang bisa menyebabkan timbulnya perilaku menyimpang
di kalangan siswa perempuan di Indramayu, di
antaranya adalah :
·
Longgarnya pegangan terhadap agama. Sudah
menjadi tragedi di dunia maju, di mana segala
sesuatu hampir dapat dicapai dengan ilmu
pengetahuan, sehingga keyakinan beragama
mulai terdesak, kepercayaan terhadap Tuhan tinggal simbol, larangan-larangan dan perintah-perintah Tuhan tidak
diindahkan lagi. Dengan longgarnya pegangan seseorang pada ajaran agama, maka
hilanglah kekuatan pengontrol yang ada di dalam dirinya. Dengan demikian, satu-satunya alat pengawas dan pengatur
moral yang dimilikinya
adalah masyarakat dengan
hukum dan peraturannya. Namun biasanya
pengawasan masyarakat itu tidak
sekuat pengawasan dari dalam diri sendiri. Karena pengawasan masyarakat
itu datang
dari
luar,
jika orang
tidak tahu, atau tidak ada orang
yang disangka akan mengetahuinya, maka dengan senang hati
orang itu akan berani melanggar
peraturan-peraturan dan hukum sosial itu. Akan tetapi, jika setiap orang dengan teguh memegang keyakinannya kepada Tuhan serta
menjalankan agama dengan sungguh-sungguh, tidak perlu lagi adanya pengawasan yang ketat, karena
setiap orang sudah
dapat menjaga dirinya
sendiri dan mampu menyeleksi pengaruh
dari lingkungan.
·
Kurang efektifnya pembinaan moral yang dilakukan oleh keluarga,
sekolah, maupun
masyarakat. Pembinaan moral yang
dilakukan oleh ketiga institusi ini tidak berjalan menurut semestinya (normatif) atau yang sebisanya (objektif).
Pembinaan moral di keluarga
harus dilakukan sejak anak masih kecil, sesuai dengan kemampuan
dan umurnya. Tanpa dibiasakan menanamkan sikap yang dianggap baik untuk menumbuhkan moral, anak-anak akan dibesarkan tanpa mengenal
moral itu. Pembinaan moral yang dilakukan di rumah tangga bukan dengan menyuruh menghafal
rumusan tentang baik dan buruk, melainkan harus dibiasakan. Orang tua harus menjadi teladan yang baik untuk
anak-anaknya.
Seperti
halnya keluarga, yang dijadikan sebagai
basic-education, sekolah pun memiliki peranan
penting dalam pembinaan
moral siswa perempuan.
Hendaknya sekolah dapat dijadikan
sebagai lapangan untuk menumbuhkembangkan mental
dan moral siswa perempuan, di samping
ilmu pengetahuan, pengembangan bakat dan kecerdasan. Untuk
menumbuhkan sikap moral yang demikian itu, peran
pendidik selain memberikan bimbingan pendidikan moral juga menjadi teladan yang
baik untuk siswa perempuan tersebut.
Selain
rumah tangga dan sekolah,
masyarakat juga memiliki peran
dalam pembinaan moral. Masyarakat dapat sebagai kontrol secara eksternal dan bersifat penting
dalam pembinaan moral. Hadirnya
masyarakat yang rusak moralnya akan sangat
berpengaruh pada perkembangan moral siswa
perempuan. Karena kerusakan masyarakat itu sangat besar pengaruhnya dalam
pembinaan anak, maka harus segera diatasi. Terjadinya
kerusakan moral di
kalangan pelajar dan generasi muda sebagaimana
dijelaskan di atas, bisa dikarenakan tidak efektifnya peran keluarga, sekolah, dan masyarakat
dalam pembinaan moral. Dengan begitu ketiga instansi pendidikan ini harus berjalan seiringan dalam pendidikan atau pembinaan moral.
·
Derasnya arus
budaya materialistis, hedonistis, dan sekularistis. Seperti banyak informasi
yang kita ketahui
melalui beberapa media cetak atau elektronik (televisi) tentang anak-anak
sekolah menengah yang ditemukan oleh gurunya
atau polisi mengantongi obat-obat terlarang, gambar-gambar dan video yang berbau pornografi, alat-alat kontrasepsi seperti kondom, dan benda-benda tajam. Semua benda yang ditemukan tersebut merupakan
benda yang terindikasi atau ada
kaitannya dengan penyimpangan moral yang
dilakukan oleh kalangan remaja usia sekolah. Gejala penyimpangan tersebut terjadi karena pola hidup
yang semata-mata mengejar
kepuasan materi, kesenangan
hawa nafsu, dan tidak mengindahkan nilai-nilai agama. Derasnya
arus budaya
yang demikian
disinyalir termasuk faktor yang paling besar andilnya dalam
menghancurkan moral para siswa
perempaun dan generasi tunas bangsa.
Pendidikan Moral
Pendidikan sejati merupakan proses
pembentukan moral masyarakat
beradab, masyarakat yang tampil dengan wajah kemanusiaan dan pemanusiaan
yang normal. Kata lainnya, pendidikan
adalah ‘moralisasi masyarakat’ terutama peserta didik
(Sudarwan Danim, 2006:63-64). Pendidikan yang dimaksudkan di sini bukan
hanya sekedar sekolah (education not only education as schooling), akan tetapi pendidikan
sebagai jaring-jaring kemasyarakatan (education as community networks).
Moral memiliki
pengertian yang sama dengan akhlak, character, dispotsition, budi pekerti,
dan etika. Ahklak adalah
suatu perbuatan yang lahir dengan mudah dari
jiwa yang tulus, tanpa memerlukan
pertimbangan dan pemikiran
lagi.
Berdasarkan tujuan pendidikan nasional yang tercantum
dalam GBHN dan tujuan kelembagaan
sekolah serta tujuan pendidikan moral yang diberikan pada tingkat sekolah
dan perguruan
tinggi,
maka pendidikan moral di Indonesia bisa dirumuskan untuk sementara sebagai berikut: “Pendidikan moral adalah suatu program pendidikan
(sekolah dan luar sekolah) yang mengorganisasikan
dan menyederhanakan sumber-sumber
moral dan disajikan dengan memperhatikan
pertimbangan psikologis untuk tujuan pendidikan”.
Sosok
Teladan
Keteladanan tidak bisa ditularkan lewat lisan, tetapi dengan perbuatan. Makin tinggi otoritas yang dimiliki, makin luas pulalah wilayah pengaruh efek keteladanan. Orang tua, guru,
dan masyarakat sekitar yang sikap
dan perbuatannya terwujud dalam amal perbuatannya membawa dampak yang positif terhadap
lingkungannya. Teladan satu kata yang mudah untuk diucapkan namun sangat sulit untuk dilaksanakan apalagi keteladanan ini adalah suatu perbuatan yang berkesinambungan dalam berbagai aspek kehidupan.
Sosok
panutan dan teladan bagi perempuan Indramayu adalah Annah Shopanah yang menjadi
pemimpin Indramayu dewasa ini. Sebagai emansipasi perempuan masa kini, beliau
gigih membangun Indramayu baik dari infrastruktur maupun sumber daya manusia.
Kegigihannya banyak menjadi inspirasi bagi perempuan-perempuan Indramayu
termasuk untuk siswa perempuan di SMA Negeri 1 Jatibarang.
Sebagai seorang pendidik, saya turut andil untuk
membangun pendidikan moral perempuan Indramayu melaui pendidikan formal
(sekolah). Dengan sosok suri tauladan yang baik memberikan pelajaran sikap dan
perbuatan yang berakhlakul karimah bagi siswa perempuan di SMA Negeri 1
Jatibarang. Adapun masalah yang terjadi oleh siswa perempuan di saat saya
menjalankan tugas di SMA Negeri 1 Jatibarang, di antaranya adalah :
1.
Tidak disiplin, contoh si “Melati” jarang
masuk ke sekolah pada tahun pelajaran 2015/2016
Sebagai walikelas saya melakukan pendekatan
dan bimbingan saya dengan si “Melati” dan home
visit, saya dapat informasi bahwa “Melati” dari rumah berangkat tetapi
tidak masuk sekolah dikarenakan sering jalan dengan pacarnya, setelah saya
melakukan bimbingan dan home visit si melati mulai rajin sekolah seperti siswa
pada umumnya.
2.
Melawan orang tua dan guru, contoh si
“Bunga” pada tahun pelajaran 2015/ 2016. Pada kegiatan belajar mengajar si “Bunga”
berbicara dan menunjukkan sikap yang tidak baik. Setelah melalui pendekatan
antara saya dan “Bunga” masih belum mendapatkan solusi. Langkah selanjutnya,
saya memberikan surat panggilan orang tua. Dari hasil bimbingan moral antara
saya, “Bunga”, orang tua “Bunga”, dan Bimbingan Konseling (BK) mendapatkan
solusi. Proses yang terjadi, pada saat itu saya menceritakan keteladanan guru
dan orang tua yang membuat “Bunga” menangis. “Bunga” menyadari sikap dan
perbuatannya tidak baik, di luar norma dan kesusilaan. Sekarang “Bunga” berubah
dan termotivasi untuk belajar dengan baik.
3.
Hamil di luar nikah, contoh si “Mawar”
pada tahun pelajaran 2016/ 2017. “Mawar” gagal mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK), dan
mengundurkan diri dari sekolah. Sebagai seorang guru, saya merasa gagal karena
anak didik saya putus sekolah.
Pendidikan
moral yang baik dan sosok keteladanan baik orang tua, guru, teman, dan tokoh
masyarakat salah satu solusi sebagai upaya dalam menanggulangi dekadensi moral
siswa perempuan di SMA Negeri 1 Jatibarang, yang cukup penting untuk dilakukan.
BAB 3
PENUTUP
Berdasarkan
kajian tentang bagaimana upaya menanggulangi
dekadensi moral siswa perempuan dengan keteladanan di SMA Negeri 1 Jatibarang dapat
melahirkan dampak positif, namun demikian ada 3
rekomendasi yang penulis dapat simpulakan yakni bahwa:
1. Titik tumpu pendidikan moral
merupakan salah satu alat yang ampuh dalam menanggulangi dekadensi moral
siswa perempuan di SMA Negeri 1 Jatibarang. Peran guru dengan cara memberikan bimbingan,
diskusi persuasif, pemahaman masalah yang terjadi dan memberikan solusi terbaik
untuk siswa, dapat memberikan siswa perempuan SMA Negeri 1 Jatibarang termotivasi
untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya dengan baik.
2. Perlu
diingat bahwa krisis moralitas yang
terjadi di kalangan remaja generasi
bangsa salah satu indikator penyebab terbesarnya adalah
kegagalan dari dunia pendidikan, baik
pendidikan formal, nonformal, maupun
informal. Dengan demikian
ketiga lembaga tersebut
harus berbenah, bersatu-padu, bersinergi secara
efektif dalam menanamkan nilai-nilai moralitas
dan tata krama budi pekerti
yang luhur. Jika ketiga lembaga
ini saling mengisi, diharapkan akan dapat membentuk
anak didik, sebagai generasi masa depan, yang bermoral luhur mulia.
3. Keteladan
merupakan hal yang paling nampak, tidak bisa di elakkan begitu saja. Sikap dan
perbuatan yang nyata menjadi pelajaran langsung bagi siswa perempuan untuk
menjadi perempuan yang berakhlakul karimah dan berkualitas.
.

0 komentar:
Posting Komentar