BERBAGI INDAH DALAM MEMBUAT KEBIJAKAN
Segera temukan formulasi kebijakan terkini.
Kebijakan yang dibalut isi memberi solusi,
bukan kebijakan yang malah memanas-manasi hati nurani.
Biarkan dulu hati kita bersemedi
untuk dapat berlari esok pagi
Segera temukan formulasi kebijakan terkini.
Kebijakan yang dibalut isi memberi solusi,
bukan kebijakan yang malah memanas-manasi hati nurani.
Biarkan dulu hati kita bersemedi
untuk dapat berlari esok pagi
Oleh:
JOKO INDRABATH
Indah Itu Lagu Merdu Untuk Maju
Bentuk terindah
sangat dirindukan oleh setiap insan, segala
upaya sering dilakukan untuk sekedar menumukan makna keindahan, bahkan sampai
harus berkorban jiwa dan raga agar keinginan memiliki bentuk terindah itu dapat
terlaksana.
Upaya
mencari bentuk terindah itu tak luput pula pada insane abdi Negara, mereka yang
senantiasa menjalankah titah undang undang yang dibuat pemerintah, tapi sungguh
ironis ketika keindahan itu tak segera
kunjung datang, malah justru kerumitan yang hadir disetiap implementasi
kebijakan.
Sebuah fakta
bercerita pada demensi kehidupan para guru yang merupakan bagian dari insan abdi
negara, mereka disibukan dengan melaksanakan tugas mengajar yang membingungkan,
mengapa? Karena ada kebijakan pendidikan
dengan kurikulum yang berbeda, belum tutas keberhasilan KTSP muncul KURTILAS
dan entah apa lagi yang baru, sungguh kondisi ini mencerminkan hal yang tidak
konsisten, jangankan Mereka dapat berbicara tentang kualitas outcame yang dihasilkan, kulaitas output nya pun masih abu-abu. Lihat saja
peristiwa terbunuhnya guru Budi di Madura
dan masih banyak lagi contoh penganiyaan guru oleh siswa di nusantara, semuanya membuat hati ini
miris. Lalu tinggal bertanya dimana itu bentuk terindah proses pendidikan.
Hal diatas
hanya contoh kecil salah satu implementasi kebijakan public dibidang pendidikan
yang dihasilkan Indonesia Negara yang berbentuk republic. Melihat kondisi ini rasanya kita butuh beryanyi
untuk menemukan keindahan hadir kembali, diperlukan lagu merdu untuk kita
melangkah maju.
Sinergitas Pembuat Dan Pelaksana Kebijakan
Sederhana
saja seperti logika lagu merdu, ia
memerlukan harmoni disetiap nada dan bunyi music yang mengiri sehingga saat
biduan menyanyi lahir keindahan dalam irama dan penampilannya. Logika ini dapat
di terjemahkan dalam implemnyasi kebijakan pendidikan, Jadi sinegregitas pembuat
kebijakan dan pelaksana pedidikan dalam hal ini guru sangat diperlukan sekali. Silogismenya
adalah perlu mendengar bahasa guru sebelum membuat kebijakan baru.
![]() |
| WAKIL BUPATI INDRAMAYU & SISWA SMAN 1 JATIBARANG |
Kebodohan yang dipuja
Kita sering
terjebak dalam kebiasaan yang salah. misalnya dianggap bodoh kalau jadi pejabat
tak cepat kaya, atau berinisiatif dan aktif dalam kegiatan dianggap cari muka. Akan
dianggap hebat jika bisa tampil aktraktif padahal justru manipulative dan
bicara fiktif. Ini kebiasaan yang segera mesti diluruskan karena seakan
memuja-muja kebodohan yang ada. Jangan sampai semua isi dunia membenci karena
kebodohan yang dipuja-puja.
Jangan sampai
habis cinta rakyat kepada bangsa, hal itu bisa saja terjadi karena kesabaran
rakyat telah habis dimakan derita kebijakan yang dibagun berdasarkan ego
penguasa belaka. Indicator itu terlihat ketika siswa tidak lagi hormat pada
gurunya.
Dunia pendidikan
Indonesia setidaknya bisa untuk melihat filosofi lama tentang apa yang
diajarkan pendiri bangsa, bukan malah bangga tentang metode pendidikan yang
diajarkan Amerika. Mari hapus stigma kebodohan yang dipuja dengan berkaca pada
tiga pilar (ing arso sun tulodo, ing
madyo magun karso, tut wuri handayani) pendidikan yang diajarkan Ki Hajar Dewantara.
Siapa Sumber Ilmu Itu
Seperti
lagunya Band Armada Asal Kau Bahagia, maka setidaknya ilmu ikhlas dapat dijadikan
filosofi membagun oleh para petinggi
negara, bukan mempertahankan kekuasaan selama-lamanya. Apa kurangnya ibu pertiwi memberi nikmat
kepada kita, tak perlu berbohong untuk membuat kesan bijaksana, sekarang kurasa
pemerintah masih memikirkan langgengnya kekuasaan bukan menuju kepada kemuliaan
bersama, jangan sampai kita hanya mempunyai nusa tapi tidak memiliki bangsa
yang bahagia. Baiknya kita sepakat untuk katakan sekarang untuk rela berbagi
bahagia demi nusa dan bangsa. Asal Indonesia jaya mari teriak merdeka dalam
makna yang sesungguhnya,
Kejujuran
merupakan karakter bangsa yang tenggelam oleh manipulasi diri birokrasi, sungguh
sayang sekali ini terjadi, dampaknya bahaya dan beresiko tinggi karena akan
melunturkan kepercayaan public pada para petinggi negeri.
Implemtasi
kejujuran setidaknya dapat diaplikasi pada seleksi pejabat pelaksana kebijakanan
itu dimulai, pilih guru sejati dengan seleksi kopetensi, bukan dari hasil
kongsi, jika kita jadi pejabat janganlah bangga baru diklat sehari, lalu merasa
bisa sekali, karena mungkin ada orang lain yang berjuang sekolah setangah mati,
untuk mencapai kompetensi pada jabatan yang kita miliki, tetapi belum
menikmati. Mari hal ini direnungi,
khususnya bagi kita para; guru,
pengawas, dan pejabat pendidikan di negeri ini.
Pengankatan guru honorer tahun ini
mudahan-mudahan bukan pemberian harapan palsu, karena menjelang pemilu, mari
bagi honorer dan guru bantu semangat maju terus dipacu, jangan malu dan
tunjukan terus baktimu, agar semua tahu, bahwa engkau dan para guru adalah
sumber ilmu itu.
Kebijakan Yang Menentramkan
Penanaman
hal yang asli diperlukan sekali, karena tidak akan membuat luntur nasionalisme dihati anak negri. Sikap manipulasi
sekuat mungkin kita hidari, telah habis air mata oleh derita semangat
berbangsa, lihatlah ada yang menangis sampai keluar air mata darah putih karena
melihat ibu pertiwi terus terus dibuli oleh Negara lain yang iri.
Apakah ada
yang mendengar jerit kaula alit yang seakin sulit untuk dapat mengahntarkan anaknya
melejit mengapai bintang dilangit. Mereka
butuh ruang untuk dapat berjuang merubah sedih menjadi senang, dan pendidikan
menjadi satu satunya harapan menemani anak-anaknya berjuang.
Kekuatan
bangsa ini bukan dibangun lewat kesaktian kebatinan mistik seperti ajian jarang
goyang, semar mesem, sampai ajian kesaktian kanuragan lainnya. Jaka Sembung, Brama
Kumbara, sampai Mak Lampir menjadi tokoh cerita yang melegenda. Namun semua tak
berdaya melawan fakta di era globakisasi di alam nyata. Ini salah dan dosa para
pemula generesai yang membuat cerita. Setidaknya mari bercerita tentang kondisi
nyata, jangan sampai cinta suci pada pertiwi terbuang dan menjadi kejut seperti
asem. Negara yang semula adem ayem trenterm menjadi panas dan masyrakatnya jadi
beringas.
Segera temukan
formulasi kebijakan terkini. Kebijakan yang dibalut isi memberi solusi, bukan kebijakan
yang malah memanas-manasi hati nurani. Biarkan dulu hati kita bersemedi untuk
dapat berlari esok pagi. hindari mengedepankan ambisi untuk menghabisi lawan
dalam kompetisi percaturan politik di negri ini, mari buat koalisi untuk
berbagi indah dan bahagia sepanjang hari, salah satunya melalui kebijakan
pendidikan yang menentramkan bukan yang menghawatirkan.
Mari
berbagi Indah dalam membuat kebijakan agar bahagia dapat terejawantahkan
menyentuh setiap lapisan. Hidup Pendidikan. Hidup Perjuangan, Hidup Kemerdekaan.


0 komentar:
Posting Komentar