MENENTUKAN PILIHAN BERDASARKAN POPULARITAS DAN ELEKTABILITAS




MENENTUKAN PILIHAN BERDASARKAN POPULARITAS DAN ELEKTABILITAS

Uji publik bisa dilakukan berdasarkan survai dengan metodologi yang ilmiah dan rasional.  Salah satu contoh Misalnya Ketiga Ridwan Kamil di pasangkan dengan Daniel Mutaqien ternyata memiliki elaktabilitas tinggi. Ada bererapa indicator mengapa hal itu bisa terjadi, salah satunya adalah bahwa dua tokoh poluler itu merupakan refresnetasi dua demensi mayoritas kondosi latar belakang masyarakat  jawa barat yaitu pasudan dan pantura. Sehingga kombinasi keduanya dianggap menjadi penguat satu sama lain


OLEH:
JOKO BUDI SANTOSO, SPD.M.A.
Apa Maksud Popularitas Dan Elektabilitas
            Istilah asing ini dalam kasanah komunikasi politik sering menjadi kata yang diucapkan, terutama mejelang prosesi pemilihan para eksekutif baik  di lefel nasional, maupun regional. Pilkda Jawa Barat misalnya tidak akan luput dari pengamatan para pengamat politik dari sisi ini untuk menilai kompetensi para kandidat gubenur jawa barat.
            Pengertian popular secara umum adalah dikenal dan disukai orang banyak, banyak hal yang membuat orang terkenal, namun maknanya belum tentu berkonotasi positif. Orang terkenal bisa saja karena ia berprestasi tapi mungkin juga  terkenal karena reputasi buruknya.   Kita pasti sangat mengenal Hitler pemimpin besar Jerman, kita mungkin juga sepakat bahwa dia terkenal sebagai pemimpin yang mempuyai reputasi buruk di alam demokrasi yang mengedepankan Hak Asasi Manusia, atau mungkin kita mengenal tokoh yang karismatik milik negeri ini yakni sosok jendral besar Soedirman dengan reputasi heroic bagi anak negri untuk mengenangnya sebagai pahlawan. Jadi itulah gambaran yang dimaksud populer.
Pengertian  elektabilitas cukup padat makna sebagai istilah, namun inti dari elektabilitas adalah  untuk mengukur tingkat keterpilihan.  Ukuran keterpilihan yang dimasud adalah sejauhmana peluang seseorang dapat dipilih untuk memimpin suatu komunitas dalam regional wilayah tertentu sebut aja Jawa barat dimana genderang kompetisi pemilihan calon gubenur dan wakilnya akan  ditabuh. Pemilihan kepala daerah (pilkada) dalam kontek elektabilitas tentunya berdasarkan standar dengan acuan nilai normative baik secara kognitif, afektif, dan phsikomotoriknya.
Beberepa tokoh popular jawa barat dewasa ini adalah: Dedy Mizwar, Dedi Mulyadi, Ridwan Kamil, Nurul Arifin, Daniel Mutaqien, dan tokoh lainnya. Namun tokoh poluler iti belum tentu memliki tingkat elaktabilitas untuk maju memimpin jawa barat. Mereka perlu diuji dan dipasangkan dengan tokoh lainnya.   
Uji publik bisa dilakukan berdasarkan survai dengan metodologi yang ilmiah dan rasional.  Salah satu contoh Misalnya Ketiga Ridwan Kamil di pasangkan dengan Daniel Mutaqien ternyata memiliki elaktabilitas tinggi. Ada bererapa indicator mengapa hal itu bisa terjadi, salah satunya adalah bahwa dua tokoh poluler itu merupakan refresnetasi dua demensi mayoritas kondosi latar belakang masyarakat  jawa barat yaitu pasudan dan pantura. Sehingga kombinasi keduanya dianggap menjadi penguat satu sama lain.
Kita juga patut lega menyambut datangnya waktu pemilihan gubenur dan wakil nya di jawa barat ini,  karena hal itu menandai telah lahirnya bentuk partisipatif masyarakat.  Hal itu menjadi media mewadahi gagasan bahwa masyarakat ramai boleh ikut serta menimbang-nimbang calon gubenur yang dianggap paling layak memimpin jawa barat.  Hal yang menjadi menarik adalah ketika dua istilah tadi menjadi bagian instrument opini public untuk mengukur kelayakan gubenur dan wakilnya dijawa barat. Pasalnya akankan salah satunya dapat berfungsi untuk menentukan para pemilih menjatuhkan hak suaranya pada pasangan calon gubenur jawa barat menjadi dambaanya.


Manakah yang lebih menentukan antara popularitas dan elektabilitas
Popularitas dan elektabilitas bila ditanyakan manakah yang lebih menentukan kemenangan pasanagan calon gubenur jawa barat, sama halnya dengan pertanyaan telur dulu atau ayam dulu yang ada. Sulit untuk menjawabnya memang, namun dalam pandanagan saya: “terkenal itu perlu tapi harus dalam kontek yang positif,  karena pemilihan berarti memberikan kesan baik dan menujukan kualitas kepada orang lain (calon pemilih) sehingga mereka mempunyai alasan yang kuat mengapa harus memilih kita.  Pemilihan  arahnya pada pengkubuan orang lain agar masuk dalam komunitas kita, perlu disadari bahwa setiap atensi dari mereka (para pemilih/pendukung) pasti mempunyai tendensi.”
Populartas berdasarkan  pemikiran tersebut ternyata tidak menadi garansi yang cukup signifikan untuk menjadikan pasangan calon gubenur memenangi persaingan dalam pesta demokrasi ini, Karen ada banyak faktor yang harus dipenuhi;  baik faktor internal dari personality pasangan calon, dan factor eksternal yakni kolegialitas dari relasi pasangan calon dengan lingkungannya.
Relasi pasangan calon dengan lingkungannya menurut saya adalah merupakan hal yang dapat membangun elektabilitas pasangan calon. Mengapa? Karena Filosofi yang sederhana mengajarkan kepada kita bahwasanya  jika kau tanam rambutan pasti hasilnaya rambutan, jika kau tanam kebaikan maka hasilnya kebaikan pula atau bahasa wong dermayu ne apa nandure. Jadi pasangan calon yang telah menanam dengan semangat mengabdi kepada pembangunan jawa barat,  maka itulah yang akan memetik hasilnya yang pada musim panen disebut pesta kemenangan dengan terpilih sebagai pasangan gubenur yang baru.
            Membangun elektabilitas sebenarnya ditentukan pasangan calon dalam membuat strategi kemenangan. Ibarat dalam permainan sepak bola peran calon gubenur adalah sebagai pelatih, ia harus dapat membuat formulasi yang jitu dalam komposisi pemainnya dalam tim, namun itu saja tidak cukup untuk dapat meraih kemenangan karena masih diperlukan kualitas pemain yang hebat pula. Jadi sehebat apapun pelatihnya tanpa didukung pemain yang hebat tidak akan berarti apa-apa demikian pula sebaliknya, keduanya adalah indicator yang harus terbangun secara sinergis tidak dapat di pisahkan stu sama lain, Oleh sebab itu manakah yang lebih menentukan antara popularitas dan elektabilitas sebenarnya kedua hal iu adalah betuk sinergitas yang akan lebih bermakna jika dapat berfungsi seirama. 

Siapa yang berperan dalam tingkat keterpilihan
Tingkat keterpilihan yang utama ditentukan oleh pribadi pasangan calon, namun jangan lupa sebagaimana saya katakan diatas bahwa relasi pasangan calon dengan lingkungannya merupakan hal yang dapat membangun elektabelitas pasangan calon,  jadi diperluan peran dari orang dekat calon yang tergabung dalam tim untuk mengoptimalkan hal ini. Semakin banyak orang dekat semakin banyak pula tim yang tebentuk, semakin banyak tim semakin banyak relasi, sehingga simbiosis mutualisme dapat tercipta. Jadi selain pribadi pasangan calon, Tim sukses merupakan organ yang berperan dalam tingkat keterpilihan pasangan calon gubenur.
Tim sukses yang hebat adalah pemain yang hebat, pemain yang hebat akan melahirkan karya hebat untuk mendongkrak popularitas calon yang di usung, karya hebat itu dapat ditampilkan oleh tim sukses seorang Jokowi yang dapat menciptakan Jokowi begitu populernya mengalahkan presiden SBY sekalipun kala itu dengan duplikassi lagu dari One Direction yang lagi digandrungi anak muda,  dan baju kotak-kotak yang modis sebagai labbelling untuk menghantarnya sebagai nilai jual yang sangat mempengaruhi pemilih untuk memilih calon gubenur impiannya.
Berkaca pilada DKI yang sukses menghantarkan Jokowi orang yang tidak popular sebelumnya dan mendapakan tingkat keterpilihan lebih tinggi mengalahkan pasangan yang sedang menjabat (incumbent), maka calon gubenur jawa barat dan wakilnya idaman rakyat Indramayu harus dapat membaca sebuah filosofi akan tahu bagaimana memenuhi kebutuhan orang lain  dan mampu memenuhi kebutuhan orang lain. Untuk itu belajarlah dari sikap para pelayan bukan sikap para majikan,  pelayan itu selalu tahu apa keinginan pelanggan dan mampu menyajikan menu kesukaan pelanggan, berbeda dengan majikan yang tidak tahu kenapa makanan yang disajikan di mejanya selalu enak, maka sudah dapat dipastikan majikan tidak akan tahu apa rahasia bumbu nya karena dia tidak pernah pergi kepasar dan dapur padahal sebenarnya pasar dan dapur itulah tempat yang baik untuk belajar tentang bagaimana seharusnya melayani orang lain. Bukankah mejadi gubenur adalah melayani rakyatnya?  Jadi pasti yang terpilih adalah dia yang tahu bagaimana akan melayani rakyatnya.


Share on Google Plus

About INDRABATH

Formula Hebat Membangun Karya Mulia.

0 komentar:

Posting Komentar