SENSASI
INDRAMAYU PADA SPEKTRUM
MANGGA
DAN NGAROT
Oleh
Joko Indrabath
Aikon
Pesta Yang Mempesona
Pasta
baru saja berakhir untuk sebuah hari jadi
Kota yang bernama Indramayu. Banyak cerita yang bisa saya bagikan untuk
memberikan kesan dan pesan agar dapat di lihat
oleh mata dunia. Kemeriahan tentu saja menjadi tajug utama cerita ,
hadirnya salah satu Stasiun TV besar nasional menjadi nilai tambah pada
perayaan tahun ini, sehingga aikon Indramayu seperti mangga dan budaya ngarot
menjadi sensasi samapi ke pelosok negri. Keduanya berhasil menebarkan pesona
luar biasa sehingga menyita perhatian hingga tua muda menari di acara In Box
Pagi hari. Sampai pada akhirnya publik nasional dan juga manca Negara ikut
menjadi saksi.
Kolaborasi
Sunda Dalam Jawa
Ngarot
menjadi Hal yang sangat menarik untuk dibicangkan, pasalnya mungkin diantara
kita belum mengetahui betul akan budaya ini. Ngarot merupakan salah satu
upacara adat yang terdapat di Desa Lelea, Kecamatan Lelea, Kabupaten Indramayu,
Provinsi Jawa Barat. Upacara adat ini diselenggarakan pada saat
menyongsong datangnya musim hujan yaitu tibanya musim tanam padi.
Biasanya adat ini dilaksanakan pada pekan ke-3 Desember dan selalu dilaksanakan
pada hari Rabu yaitu salah satu hari yang dianggap keramat dan hari baik oleh
masyarakat Lelea untuk menanam padi. Ngarot berasal dari kata ”Nga – rot”
(basa Sunda) yaitu istilah minum/ngaleueut. Adat ini melibatkan muda-mudi untuk
turut serta dalam upacara tesebut. Uniknya hanya pemuda dan pemudi yang masih
menjaga kesuciannya yang boleh ikut dalam acara ini karena jika pemuda
atau pemudi sudah tidak suci akan terlihat sangat buruk di mata para peserta
ngarot, dalam upacara ini para gadis desa peserta upacara dihias
dengan mahkota bunga di kepalanya sebagai lambang kesucian.
Paparan
singkat diatas jelas mengguratkan sejarah, bahwa darah sunda mengalir di bumi
wiralodra, betapa tidak Indramayu yang menggunakan bahasa jawa dalam komunikasi
masyarakatnya justru mengusung budaya sunda untuk membuat ritual yang bersifat sacral
dalam ikon perayaan kolosal warganya bernama ngarot
tersebut. Hal inilah yang menurut saya sangat menarik karena kolaborasi dua
substansi budaya yakni sunda dan jawa melebur dalam suatu kolaborasi apik
bernama ngarot. Tidaklah salah bila hal ini dikatakan sebagai kolaborasi sunda
dalam jawa, artinya bahwa dalam darah jawa wong dermayu terinternalisasi
nilai-nilai keleokan budaya sunda.
Sunda Yang
Mengindramayu
Berkaca
dari pendapat J.L. Gillin dan J.P. Gillin
yang mengatakan bahwa masyarakat merupakan kesatuan hidup manusia yang terikat
oleh suatu tata cara (sistem), kebiasaan, dan adat istiadat tertentu yang
dianut oleh anggota-anggotanya. Ini berupakan prespektif teori yang memberikan
pembenaran bahwasannya, irama pasundan sangatlah kental. Bukti dari semua itu
adalah adanya kebiasaan, dan adat istiadat tertentu yang menjadi interaksi
social warga Indramayu.
Interaksi
social ditanah Nyi Endang Darma ini justru di pelopori oleh pimpinan dermayu di
sebuah desa bernama lelea. Desa inilah yang menjadikan Upacara Ngarot menjadi
fenemena tersendiri karena dirintis oleh kuwu (kepala desa) pertama Lelea yang
bernama Canggara Wirena, tahun 1686. Ngarot merupakan arena pesta minum-minum
dan makan-makan di kantor desa sebelum para petani mengawali menggarap sawah.
Tradisi itu dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil
bercocok tanam dan sebagai penyemangat para petani untuk memulai bercocok
tanam kembali serta sebagai pembelajaran dan regenerasi petani dari generasi
tua terhadap generasi muda .
Kuwu
Canggara Wirena sengaja mengadakan pesta Ngarot sebagai ungkapan rasa terima
kasih kepada tetua kampung bernama Ki Buyut Kapol, yang telah rela
memberikan sebidang sawah seluas 26.100 m2. Sawah tersebut digunakan para
petani untuk berlatih cara mengolah padi yang baik. Demikian pula bagi kaum
wanitanya, sawah digunakan sebagai tempat belajar bertani seperti
tandur(menanam padi), ngarambet (menyiangi), panen padi, atau memberi konsumsi
kepada para jejaka yang sedang berlatih mengolah sawah tersebut.
Apa
yang terekam dalam interaksi Kuwu di Lelea tempo dulu itu jelas
mengindifikasikan bahwa adanya nilai-nilai budaya sunda yang Menindramayu,
maknanya adalah budaya yang ada dalam interaksi social masyarakat indramayu
sejatinya bermuatan adat sunda.
Sunda Indramayu Dalam Prespektif Kekinian
Dalam bukunya yang berjudul Pengantar Ilmu
Antropologi, Koentjaraningrat mengatakan bahwa masyarakat merupakan sekumpulan
manusia yang saling bergaul atau saling berinteraksi menurut suatu sistem adat
istiadat tertentu yang bersifat kontinyu, dan yang terikat oleh suatu rasa
identitas bersama. Ini referensi bagi saya untuk mengatakan bahwa Indramayu
telah terjadi peleburan dua budaya itu, keduanya media bagi sekumpulan manusia
di wilayah Indramayu yang saling bergaul
atau saling berinteraksi dalam sistem adat istiadat secara kontinyu.
Berikut
ini adalah Orang Sunda yang mempunyai
peran dalam dinamika Indramayu; mantan Bupati Ope Mustofa adalah orang sunda
yang pernah jadi orang nomor satu di Indamayu, Kepala Dinas Pariwisata Odang
Kusmayadi, Kepala SMAN 1 Haurgeulis Asep Ramli, Supriyanto Pengawas SMP
kabupaten Indramayu, Kuryati Kasi Tentis Disdik Indramayu. Mereka telah bergaul
dan saling berinteraksi dalam sistem
adat istiadat secara kontinyu, sehingga tidak salah kalau saya mengatakan bahwa
ini merupakan aktualisasi sunda Indramayu dalam prespektif kekinian.
Hal
ini merupakan kebesaran Jiwa orang Indramayu yang tercermin secara nyata, pasalnya
sejak kepemimpinan Irianto MS Saefudin hingga Ana Sopana selalu memberikan
media yang cukup demokratis bagi interaksi yang timbul diantara dua budaya itu.
Mukidi Spektrum Kolaborasi.
Istilah Mukidi (Muka Diri Sendiri) saya pinjam
untuk mengevaluasi tentang pesta yang mengusung symbol- symbol Indramayu
tersebut. Pandangan Kritis Saya Dalam Spekrtum Kolaborasi Nilai Budaya Tadi
adalah sebagai berikut:
1.
Tidak di temukan artefak yang orisinal tentang Indramayu
2.
Mangga dan ngarot sesuatu yang dipaksakan memeliki
kerikatan dalam suatu momentum peristiwa interaksi social, padahal ngarot dalam
sejarah di sebukan panen padi bukan panen buah mangga.
3.
Fenomena budaya Sawer dalam tarling klasik maupun kontemporer
yang tidak di munculkan, padahal ada sebagian yang mengatakan bahwa aktifitas
dalam interaksi social itu adalah kearifan local.
4.
Sungai cimanuk yang kurang mendapat forsi eksistensinya
secara spesifik bagi keberadaan Indramayu, padahal sejarah mencatat sang
Wiralodra mencari dimana letak cimanuk yang sesungguhnya sehingga beremu jodoh
dengan Nyi Endang Dharma ayu.
Hal
inilah yang menurut saya dapat menjadi rekomendasi pada pada perayaan selanjutnya, agar pada Pesta
tahun berikutnya Indramayu sudah memiliki artefak yang orisinal seperti
Surabaya misalnya dengan sura ( Hiu) baya (buaya) yang terpampang ditengah kota
sebagai symbol lugas tentang kota Surabaya.
Ada
baiknya untuk tidak memaksakan bahwa mangga adalah ngarot atau sebaliknya
ngarot adalah mangga, akan tetapi kita mencoba memodifikasi agar keduanya dapat
menyatu dengan elemen perekat yang pas, misalnya dengan memunculkan kali
cimanuk sebagai penjamin secara alamiah tentang tumbuh suburnya tanaman Mangga
di Indramayu serta benih padi yang melimpah yang diekspresikan dengan upacara
ngarot tadi. Pada bagian lain kita juga bisa mengankat budaya sawer sebagai
bagian penterjemahan kemurahan hati para petinggi daerah untuk berbagi rejeki
di tengah pesta.
Pesta Dan Harapan Hebat
Kemeriahan pesta berbuah kata hebat,
sudah dipastikan ini dirancang dan dibuat oleh semua yang serba hebat. Orang
hebat, biaya hebat, kebijakan hebat,pemimpin hebat, dan tentu saja hasil yang
hebat. Ada harapan yang hebat pula disamping semua yang hebat itu yakni
kesetiaan, ketulusan kesempurnaan cinta kita bagi bumi wiralodra. Ingat bangsa
yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Pada era klasik
pahlawan kita adalah Wiralodra dan Nyi Endang Dharma, lalu apakah salah jika
dalam prespektif modern pahlawanya adalah Yance dan Ana Sopana? Jadi mengapa kita tidak mau menjadi besar
karena melupakan sejarah? Jawabnya tunggu pada momentum 171717 (17 prestasi
bupati, 17 agustus, 2017). yang sedang dalam rencana. Sehingga mangga dan
ngarot bukan lagi hanya sensasi tapi merupakan spektrum prestasi Indramayu yang
ayu. Amien.



0 komentar:
Posting Komentar