Pilihan
Berdasarkan Ketaatan Struktural
OLEH:
JOKO BUDI SANTOSO,
SPD.M.A.
Kepatuhan
struktural akankah menjadi alasan membidik cagub.
Sebagai warga negara yang baik
dan warga masayarakat yang bijaksana tentunya taat terhadap aturan hokum adalah
menjadi alat ukur sejauh mana kedudukan kita didalammnya. Warga indramayu baik
dikalangan swasta` mauapun pemertinthan taat terhadap kebijakan pemerintah daerah merupakan salah satu
insrtmun yang dapat menjadi indicator kategori warga yang baik. Menyoal pesta
demokrasi jawa barat yang akan dikgelar ketaanan itu memasuki babak ujian,
yaitu bagaiana warga Indramayu mau memiih pemimpin sesuai dengan amanat pemda
Indramayu atau tidak.
Apakah
makna jika gubernurnya wong dewek.
Dalam organisasi jika komunikasi
berjalan dengan baik maka hampir dapat dipastikan rasa nyaman akan mengalir
bersama kesejahteraan yang di dapat para komponen organisasi. Pada oranisasi
pemerinthan para kepala dinas kabupaten,
dinas kecamatan sampai dengan kepala desa dan para perangkatnya tentunya yang amat merasakan pembagian roti
bernama kesejahteraan itu. Komunikasi efektif itu tententu didasari alasan
rational jika pemimpin organisasi itu dari kalangan sendiri, sekilas nampaknya
seperti membangun neo nepotisme di
alam reformasi, namun hal ini menjadi fenomena menarik dalam prespektif politik
praktis, mengapa hal ini bisa terjadi karena ada hunbungan historis phsikologi
yang dilatar belakangi oleh persamaan nasib sebagai putra daerah pada georafis yang sama,
investasi poltik berupa material dan non material. Hal lain yang memperkuat kondisi tersebut
adalah bahasa dalam ranah teoritis disebut
language of friendship atau bahasa
pekawaanan sehingga ada asumsi jika wong
dewek sing dadi wis pasti keciptretan rejeki. Pun demikian kondisi tersbut harus disertai dengan kudu kelingan karo purwa daksina. Jika
tidak akan menjadi kacang lupa kan kulitnya.
Oraganisai yang dibangun
berdasarakan ranah politik tentu sangat rentan dengan perubahan. Konstalasi
politik menjadi referensi utama untuk mengambil langkah startegis dalam
penetapan pilihan mengapa? Karena pada role
of the game politik adalah keputusan kolegial bukan keputusan individu.
Alas an lain seringnya terjadi perubahan keputusan politik adalah logika
politik bahwa dalam politik tidak ada kawan yang abadi namun yang abadi adalah
kepentingan. Situasi inilah yang
dilakukan oleh orang yang kita pilih sebagai pemimpin kadang tidak
sesuai harpan pemilih dan orang dekatnya.
Kepatuhan atau ketaatan structural terhadap pemerintah yang saya maksud
adalah secara
umum dapat diartikan sebagi citizenship
behavior yang merujuk pada 3 elemen utama yaitu,
kepatuhan,loyalitas, dan partisipasi. Kepatuhan dan loyalitas merupakan
definisi citizenship dalam pengertian yang luas, sehingga esensi dari citizenship
behavior adalah partisipasi. Dalam partisipasi, perhatian terutama
ditujukan pada arena nasional, arena komunal, dan arena organisasional.
Pilkada jabar siapapun pemenangnya akan ditentukan akumulasi
dari banyaknya partisipasi masayarakat dalam manyalurkan hak suaranya. Siapa
dari semua pasangan calon yang paling banyak partisipanya itulah gubernurkita nanti. Salah satu
diantara latar belakang dari parisipasi terhadap pasangan calon gubernuryang
menang tadi dapat ditentukan oleh alternative alasan menentukan pilihan
berdasarkan ketaatan structural.
Pilihan
berdasarkan ketaatan structural biasanya dapat dieksplor oleh calon incamben
mengapa? Karena structural yang dimksud disini lebih kepada para birokrat atau
aparateur Negara dalam keperintahan...Ketaatan structural dalam pilkada jabar
mempunyai makna yang relative berbeda sebab bedasarkan citizenship behavior partisipasi. Bergantung pada arena nasional,
arena komunal, dan arena organisasional. Berdasarkan hal ini maka masyarakt
Indramayu tergolong kepada area komunal dalam daerah pemilihan jawa barat
sehigga bngunan ketaatan sruktural yang relevan adalah bagaimana masyarakat
indramayu memahami bahwa yang dimaksud ketaatan structural adalah patuh teradap
haluan politik pemda Indramayu yang telah menjagokan pemimpin Indramayu untuk dapat
banyak berbicara pada tingat pemerintahan provinsi jawa barat.
Ketaatan Structural Akankah
Menentukan Kemenagan Pemilhan
Kemenangan dalam sebuah ajang pemilihan calon pemimpin
tidak hanya ditentukan oleh satu factor saja. Ketaatan struktulal hanya bagian
kecil dalam instrument untuk meraih kemengan, banyak hal diperlukan untuk dapat
keluar sebagai pemenang, dalam logika sederhana ada pemeo yang sudah akrab di
telinga sebagian orang bahwa kemungkinan
karier seseorang baik dalam jabatan structural, fungsional dan jabatan politik
ditentukan oleh 3D (garis tangan, campur
tangan, dan tanda tangan ). Berdasarkan hal itu saya merusaha mendekatkanya
aspek rasionalitas dan tinjuan empiris. Garis tangan merupakan indicator yang
datang dalam ranah spiritual keagamaan, jika Tuhan sudah menghendaki maka apa
yang terjadi sudah merupakan referensi mutlak dari dimensi langit yang tidak
dapat diigkari oleh logika berfikir manusia. Artinya apapun kodisi seseorang
dari kalangan selebritiskah, tokoh masyarakatkah, ataupun hanya orang biasa
dengan komptensi yang pas-pasan jika Allah menghendaki maka ia keluar menjadi
yang terpilih. Camput tangan, merupakan kontribusi dari pihak lain yang
meiliki pengaruh besar pada komunitas kita berada, dikalangan bikrorat bisa dicontohkan
pimpinan seseorang dalam bekerja, atau orang yang dituakan karena memiliki karismatik
dan pengkultusan masayarakat. Pilkda jabar campur tangan lebih mengarah pada sejauhmana
para calon memiliki tim sukses handal untuk dapat mendongkrat popuaritas
jagonya melalui berbagai cara dan kreatifitasnya. Tanda tangan adalah hal
terakhir berupa dukungan fasiiatas`berdasarkan kajian formal pimpinan dalam
organisasi yang relevan dengan bidang kerja dan profesionlitas seseorang
Pada
akhirnya Pilihan berdasarkan ketaatan struktural yang diupayakan masayarakat bukan
merupakan satu-satunya yang dapat menghantarkan Calon gubernur yang didukung
dalam pilkada Jabar muncul sebagi pemenang, akan tetapi hanya sebagai bagian dari suatu
system nilai pada area komunal dalam
daerah pemilihan jawa barat baik formal maupun non formal yang hendaknya
dipenuhi agar tidak dipersalahakan
secara normative. Ketaatan struktural berguna sebagai referensi utama dalam memilih pimpinan bagi
komunitas yang berangkutan, apabila ultimate
goalnya adalah kemenangan maka ketaatan structural berfungsi sebagai instrument goal semata artinya
diperlukan instrument lain yang berfungsi sebagai modal agar dapat memenangi
pilkada jabar. Semakin banyak modal dari pasangan calon gubernur maka semakin besarlah
peluang untuk menang. Selamat berjuang wahai calon idaman. Semoga engkau bisa
menang.
0 komentar:
Posting Komentar